Connect with us

Budaya

Tiupan Kuriding Julak Larau dari Pinggir Sawah ke Panggung Musik

Diterbitkan

pada

Julak Larau saat memainkan kuriding di panggung Bakhtiar Sanderta Taman Budaya Kalsel. Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – “Saya tidak pernah memilih kuriding, mungkin justru kuriding yang memiih saya,” ucap Mukhlis Maman alias Julak Larau, sang maestro kuriding Kalimantan Selatan saat membacakan pesan di peringatan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel Banjarmasin, pada Jumat (26/6/2026) malam.

Berjarak 150 km di kampung halamannya di Banua Kupang, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dirinya pertama kali mendengar kuriding -alat musik tradisional Banjar- ketika dimainkan oleh sang kakek di pinggir sawah untuk mengusir tikus.

Saat itu, kuriding belum dilabeli sebagai alat musik. Urang Banua menganggap kuriding terlalu kecil untuk dibicarakan bahkan ada istilah “kuriding patah”, lantas buat apa dimainkan jika masih banyak alternatif lain.

Baca juga : Ketua DPRD Banjarbaru Silaturrahmi ke Ketua PN dan Kajari Banjarbaru

Perayaan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Jumat (26/6/2026) malam. Foto: fahmi

Sepulang dari sawah, kuriding hanya digantung layaknya benda biasa yang tak bermakna. Mungkin kala itu belum ada teknik khusus bermain kuriding, sehingga terlalu sederhana disebut alat musik. Lambat laun, alat musik khas Kalsel ini digunakan dalam perayaan-perayaan di kampung.

“Pernah ada masa ketika orang lebih bangga memainkan bunyi dari tempat yang jauh, daripada mendengar bunyi yang lahir dari tanah sendiri,” ungkap Julak Larau.

Legenda hidup Banua itu meyakini bahwa sesuatu yang kecil (kuriding) belum tentu memiliki arti sederhana. Pelajaran dari alat musik ini adalah ia tidak tidak akan pernah dipaksa berbunyi-ia akan mengeluarkan suara jika berdamai dengan nafas sendiri.

“Semakin keras kita memaksanya, maka ia akan kehilangan bunyi. Semakin tenang kita mendengarnya, maka banyak cerita yang ia sampaikan,” jelas seniman dan penata musik itu.

Baca juga : Gangguan Pasokan Listrik, Ketua DPRD Kapuas Minta PLN Berikan Kompensasi

Begitulah hidup, Julak Larau menyadari bahwa semakin bertambahnya usia, menjadi seniman bukan sekadar membuat bunyi yang paling nyaring atau paling banyak ingin didengar-sebaliknya, tugas seniman adalah menjaga agar manusia tidak kehilangan kemampuannya dalam mendengar.

Hari ini, bunyi datang di mana saja, musik bisa didengar kapan saja, dunia terasa semakin dekat dan itu adalah anugerah yang patut disyukuri. Meski begitu, diantara banyaknya suara, dia mempertanyakan apakah kita jarang mendengarkan diri kita sendiri?.

Salah satu band lokal “Parman Pentol’s” yang tampil dalam peringatan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel.

Kuriding mengajarkan bahwa bunyi yang baik lahir dari kesabaran. Oleh sebab itu, Julak Larau percaya bahwa pemusik tidak cukup hanya pandai bermain alat musik, tetapi dia juga harus pandai mendengar-mendengar sesama, alam, dan zaman.

“Selama kita masih memiliki kesediaan untuk mendengar, saya yakin musik akan terus menemukan jalan untuk hidup,” terang Pamong Budaya Madya Kalsel itu.

Julak Larau teringat oleh guru-gurunya yang tidak banyak meninggalkan tulisan ataupun mengaku sebagai maestro, mereka memperlakukan alat musik seperti sahabat sendiri. Untuk itu, alat musik tidak pernah berdiri sendiri, dia selalu membawa cerita tentang orang yang membuatnya dan menjadikannya bagian dari kehidupan.

“Saya tidak pernah melihat kuriding sebagai benda, bagi saya ia adalah ingatan, ia adalah perjalanan, dan ia adalah cara orang Banjar berbicara kepada alam,” bebernya.

Jika orang banyak berkata bahwa Julak Larau telah menjaga kuriding selama puluhan tahun, sesungguhnya dia tidak menjaga kuriding, justru kuriding yang menjaga dia untuk mengingatkan di mana asal usulnya.

Baca juga : Bupati Kapuas Hadiri Upacara Peringatan Hari Jadi ke-24 Kabupaten Pulang Pisau

Kuriding kecil yang acapkali disimpan di saku bajunya menjadi pengingat bahwa sehebat apapun seseorang berjalan, suatu saat ia harus pulang. Dari awalnya kuriding sebatas pengusir hama, namun siapa sangka alat musik khas Kalsel ini membawa Julak Larau ke berbagai tempat.

Pelopor pelestarian kuriding itu mengaku bangga melihat anak muda yang lihai bermain alat musik baik itu tradisi maupun modern. Dia tak pernah meminta mereka bermain persis seperti dirinya karena setiap zaman memiliki nafasnya sendiri. Satu-satunya harapan adalah jangan memutuskan percakapan dengan para pendahulu agar senantiasa belajar dengan mereka, sehingga perjalanan dilanjutkan dengan caranya sendiri.

Pada dasarnya, tradisi tidak meminta seseorang menjadi salinan masa lalu-tradisi hanya meminta tidak melupakan akar sebelum menumbuhkan cabang-cabang baru. Lantas, Julak Larau percaya bahwa musik akan selalu menemukannya jalannya.

“Seperti Sungai Martapura yang memiliki cabang-cabang antasan dan arus yang pasang surut, kadang deras, kadang berbelok, kadang membawa lumpur. Namun pada akhirnya semua aliran akan bertemu,” tukas peraih penghargaan Astaprana Budaya dari Kesultanan Banjar itu.

Hal itu pula yang terjadi pada bunyi -dia tidak berjalan sendiri- sendiri karena mencari bunyi lain layaknya manusia. Masa depan musik tak perlu dikhawatirkan selama masih ada orang yang mau belajar dan mau mengajarkan, maka harapan itu akan terus ada. Untuk itu, Julak Larau mengajak warga untuk membunyikan dan mendengarkan.

Baca juga : Hadapi Ancaman Karhutla, BPBD Kabupaten Banjar Aktifkan 3 Posko Utama

Kelak, jika Julak Larau tidak lagi memainkan kuriding, alih-alih mengingat alat musiknya, dia berharap yang terus hidup adalah kebiasaan mendengar baik tiap individu-individu, komunitas-komunitas, dan jejaring manapun.

“Mendengarlah sebelum berbicara, karena dari sanalah semua musik bermula, Dan barangkali di sanalah kita belajar menjadi manusia,” pesannya.

Dengan demikian, Julak Larau mengakhiri pidatonya dengan mengucapkan selamat Hari Musik Dunia dilanjutkan permainan kuridingnya secara singkat. Penonton pun menyambutnya dengan riuh tepuk tangan atas penampilannya di Panggung Bakhtiar Sanderta.

Tepat hari ini tanggal 3 Juli 2026, Julak Larau berulang tahun di usia 64 tahun. Lelaki yang mendedikasikan hidupnya dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya banjar selama 40 tahun ini terus menjadi inspirasi warga Banua, khususnya kalangan generasi muda.

Budayawan Kalsel, HE Benyamine alias Bang Ben. Foto: fahmi

Budayawan Kalsel HE Benyamine menilai peringatan Hari Musik Dunia di Kalsel tahun 2026 terasa istimewa sebab tokoh musik Banua Julak Larau menyampaikan arti sebenarnya dari Hari Musik Dunia-bukan sekadar selebrasi tetapi ada cerita di dalamnya.

“Sangat menarik karena ada pesan dari seorang tokoh (Julak Larau), ia berbicara tentang musik dalam hidupnya,” tutur Bang Ben (sapaan akrabnya).

Baca juga : Tim Dosen Tekpend FKIP ULM Siapkan Guru Hadapi Era Kecerdasan Artifisial

Menurut Bang Ben, perayaan Hari Musik Dunia di Kalsel seringkali tertinggal tentang makna mengapa kita merayakan hari spesial ini. Dia menganggap pesan Hari Musik Dunia tahun adalah bentuk perenungan dari seniman senior yang berdedikasi dan memiliki rekam jejak panjang di bidang musik.

“Isinya (pesan Julak Larau) sangat berharga untuk perkembangan musik di daerah dan juga seluruh Indonesia,” terang peraih penghargaan Anugerah Seni dan Budaya (Bidang Promosi & Diplomasi Kebudayaan) 2023 itu.

Bahkan sejauh pengetahuannya, Kalsel adalah satu-satunya daerah yang mempunyai pesan di Hari Musik Dunia. Terlepas yang membawakan musisi tradisional atau modern, pesan tersebut menunjukkan bahwa peluang ekosistem musik di Banua bernilai positif.

“Pesan untuk anak muda, mereka sudah berkarya dengan tertatih-tatih, dengan sumber daya terbatas, tetapi mereka tetap mempunyai karya yang tidak kalah dengan di luar,” tandasnya.

Sementara itu, Dosen Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP) FKIP ULM Muhammad Budi Zakia Sani memaknai Hari Musik Dunia sebagai selebrasi bersama tentang musik yang menjadi alat paling banyak digunakan untuk mempersatukan manusia.

Dosen PSP FKIP ULM, Muhammad Budi Zakia Sani. Foto: fahmi

“Kita memaknai hari musik ini sebagai salah satu tempat untuk bertemu, jadi saling silang bunyi silang genre,” kata Zaki.
Dia mengakui bahwa potensi musik di Kalsel sangat besar, baik itu tradisional maupun modern. Lantas, musik sebagai bagian mutlak dari kebudayaan mesti diperluas ruangnya, salah satunya melalui perguruan tinggi yang didalamnya ada Jurusan PSP.

Baca juga : Menyamakan Persepsi Pengembangan Banjarbakula Waste to Resource Project

Hal tersebut ujarnya merupakan integrasi bagus bagaimana kontribusi kampus-kampus dalam mengisi ruang budaya, termasuk musik di Banua.

“Kami juga mengajarkan musik di PSP FKIP ULM sebagai salah satu program studi yang ada di Kalsel, bagaimana mengakomodir musik-musik lokal, musik-musik populer ke dalam pembelajaran,” ungkap pengajar mata kuliah musik itu.

Komposer karya “Madah” 2018 itu berharap para musisi konsisten merawat identitas musik di Kalsel yang bisa dibawakan dalam ragam genre. Hal itu bergantung terhadap selera anak muda sekarang yang menyesuaikan perkembangan musik di tiap zaman. Dirinya turut menyoroti tentang penerapan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pembuatan karya musik.

“Mungkin jadi tema menarik ke depan bagi peningkatan musik, jadi hari ini musik bisa berdampingan dengan kemajuan teknologi,” hematnya.

Zaki berpesan agar anak muda lebih mengenal tentang tradisi dan budaya musik Kalsel-mulai dari yang sederhana sampai jadi pembiasaan yang akan jadi kebiasaan dalam memiliki dan mencintai seni budaya daerah.

Baca juga : Wakil Ketua II DPRD Kapuas Apresiasi Kinerja Kepolisian

“Cobalah untuk mengenal diri sendiri karena diri kita adalah kita yang mengetahuinya. Jadi musik itu tidak bisa dipaksakan, mereka akan secara natural dan pelan-pelan belajar,” tutupnya.

Di sisi lain, Kepala UPTD Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel Rizal Pahmi mengatakan, pihaknya berkomitmen membuka ruang kreatif terhadap perkembangan budaya musik, baik itu modern atau tradisi.

Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel Rizal Pahmi. Foto: fahmi

“Mereka bisa berkolaborasi dengan musik daerah dan musik kontemporer yang ada di jaman sekarang,” ujar Rizal.

Dia takjub melihat antusias penonton maupun seniman yang menyemarakkan Hari Musik Dunia di Taman Budaya Kalsel. Untuk itu, agenda semacam ini akan terus diadakan di tahun-tahun berikutnya, sehingga musisi-musisi yang belum mendapat kesempatan di tanggal 26 dan 27 Juni lalu bisa ikut di event selanjutnya.

“Harapan saya di hari musik ini mereka (seniman) bisa lebih giat dalam berkarya,” pinta Rizal. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter : fahmi
Editor: bie


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca