Connect with us

kampus

Tim Peneliti FKIP ULM Ciptakan Modul Ajar Ekologi dan Pelestarian Lahan Basah Berbasis 4K

Diterbitkan

pada

FGD Modul Ajar Ekologi dan Pelestarian Lingkungan Lahan Basah di ruang rapat lama FKIP ULM Banjarmasin, Selasa (23/6/2026). Foto: fahmi

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Tim peneliti dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menciptakan modul ajar ekologi dan pelestarian lingkungan lahan basah berbasis pembelajaran 4K (Kritis, Kreatif Komunikatif, Kolaboratif).

Modul ini rencananya akan diujicoba terapkan kepada siswa-siswi di lima Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas VII Kota Banjarmasin, yakni SMPN 21, SMPN 15, SMPN 32, SMPN 13, dan SMPN 29, pada akhir Juli mendatang.

Dalam rangka penyempurnaan modul ajar, Tim Peneliti FKIP ULM menggelar Focus Group Discussion (FGD) di ruang rapat lama FKIP ULM Banjarmasin, Selasa (23/6/2026).

Kegiatan ini mengundang enam validator instrumen yang terdiri dari dosen FKIP ULM dan guru mata pelajaran IPA di SMP Banjarmasin. Selain itu, tujuh guru mata pelajaran IPA dan Bahasa Inggris dari tujuh SMP Banjarmasin turut diundang untuk dimintai masukan terkait perangkat pembelajaran yang akan diimplementasikan di sekolah.

Baca juga: Siti Nur Adlina dari MA Hidayatullah Martapura, Terpilih Anggota Paskibraka Nasional 2026 Wakili Kalsel

Ketua Tim Peneliti FKIP ULM, Moh Yamin. Foto: fahmi

Ketua Tim Peneliti Moh Yamin mengatakan, FGD ini bertujuan merangkum pemikiran dosen dan guru bidang terkait agar Modul Ajar lebih siap digunakan di sekolah.

Saran-saran baik dari validator maupun guru sangat berguna untuk finalisasi penyusunan Modul Ajar termasuk Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) di dalamnya.

“Tentu harapannya hasil penelitian (Modul Ajar) ini bisa dilaksanakan menjadi lebih baik di sekolah-sekolah,” ujar Yamin usai acara.

Kombinasi pembelajaran 4K dengan lahan basah menjadikan Modul Ajar Kurikulum Merdeka ini sangat menarik dan berbeda dengan yang lain. Tak hanya relevan, tetapi juga menyesuaikan karakteristik Banjarmasin sebagai Kota Seribu Sungai.

Di tahun ini, modul ajar modul ajar ekologi dan pelestarian lingkungan lahan basah berbasis pembelajaran 4K difokuskan ke mata pelajaran IPA. Ke depannya, Tim Peneliti FKIP ULM akan mengembangkannya ke mata pelajaran Bahasa Inggris.

Baca juga: EduAction Series #3 Kenalkan Anak Muda Peluang Belajar di Luar Negeri

Dosen Pendidikan IPA FKIP ULM Sauqina. Foto: fahmi

Sementara itu, dosen Pendidikan IPA FKIP ULM Sauqina menyebut, modul ajar ini sudah memenuhi keterampilan 4K, ditambah beragam aktivitas dengan konteks lahan basah yang sesuai dengan lingkungan siswa.

“Semoga modul ini bisa mudah diakses dan dimanfaatkan pendidik di SMP di Kalimantan Selatan,” ujar Sauqina.

Kendati demikian, Lulusan University College London itu menyarankan perlu adanya penyederhanaan konsep abstrak di perangkat pembelajaran tersebut. Misalnya dalam penggunaan istilah ilmiah yang tidak umum-sebaiknya diperkenalkan lebih dahulu ke murid agar lebih mudah dipahami.

Lebih jauh, dibutuhkan sedikit materi tentang framework (kerangka kerja) ragam atau dimensi aksi jika memungkinkan.

“Misal adaptasi, mitigasi, one-off event, sustainable long term project,” jelas Sauqina selaku salah satu validator instrumen.

Peneliti bidang sains itu menyatakan, visualisasi organisme khas harus diperbanyak supaya membantu siswa mengidentifikasi objek di lingkungannya.

Dengan demikian, Sauqina berharap modul ajar yang dikenalkan tim peneliti bisa jadi lebih baik setelah pelaksanaan FGD.

“Yang dibuat itu sudah sangat bagus dan insightfull (penuh wawasan) bagi semua orang,” harapnya.

Baca juga: Disdikbud Kalsel Perkuat Pendidikan Kesetaraan Menjangkau Anak Putus Sekolah

Guru-guru SMP di Kota Banjarmasin yang diundang mengikuti FGD. Foto: fahmi

Senada, guru IPA SMPN 15 Banjarmasin Arnys Yunita Sari berpendapat, lahan basah yang menjadi topik utama dalam modul ajar sangat cocok dengan lingkungan pelajar di Banjarmasin.

“SMP-SMP sekitar ULM, Kuin, Alalak, HKSN memang berbasis lahan basah,” tutur Arnys.

Sebagai pendidik, kerja sama antara sekolah dan perguruan tinggi misalnya dalam bentuk penyusunan modul ajar dari dosen yang kemudian dipakai oleh guru bisa terus ditingkatkan.

“Kami sangat mengharapkan kerja sama ini berlanjut lebih dalam lagi,” pungkasnya. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca