HEADLINE
Hasil Panen Padi Petani di Palam Diprediksi Turun, Ini Penyebabnya
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Petani di wilayah pinggiran Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), memprediksi akan ada penurunan hasil panen padi pada tahun ini.
Jika dibanding panen padi tahun 2024 lalu, hasil panen padi tahun 2025 diprediksi berkurang sekitar dua sampai tiga blek. Kondisi itu diungkap Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kelurahan Palam, Rohim berdasar pengamatan hasil panen padi di lahan sawah wilayah Kelurahan Palam.
“Seperti di lahan sawah bapak Yansah tahun kemarin bisa tembus 12-15 blek, kalau tahun ini kemungkinan agak turun,” ujar Rohim, Selasa (26/8/2025) siang.
Baca juga: Legislator Dapil II Kapuas Berharap Bantuan Rumah Ibadah Jangan Tebang Pilih
Beberapa kali ia amati, penurunan hasil panen padi terjadi disebabkan karena masa siap panen padi didapati tidak merata.
“Informasi dari petani panen tahun ini masak bulir padi tidak merata, ada yang sudah masak ada yang masih hijau, jadi mau pakai alat panen semuanya tidak bisa, akhirnya panen manual,” ungkapnya.
Ketidakmerataan kematangan bulir padi ini terjadi karena adanya penurunan sel. Di mana penurunan sel sendiri diakibatkan karena ada perubahan jadwal tanam padi pada tahun ini.

Padi menguning yang mulai dipanen di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Foto: wanda
Baca juga: “Merdeka dari Stunting” Kolaborasi PLN – Pemko Pontianak, 80 Paket Gizi Cegah Stunting Diserahkan
“Kalau jadwal tanam kita di Palam maksimal bulan Maret-April terakhir, dengan kondisi banjir di bulan Januari-Februari, maka membuat masa tanam mundur sampai ke bulan Mei. Bahkan bulan Juni-Juli ada yang masih tanam di sini, itu otomatis menyebabkan adanya penurunan produksi,” jelas dia.
Begitu juga karena seringnya lahan sawah itu terisi air, maka otomatis tingkat keasaman naik.
Yansah, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Bakti Palam memprediksi hasil panen tahun ini memang mengalami pengurangan.
“Jelas ada penurunan hasil panen, ibarat persentasenya itu kalau dari 70 persen saja, mungkin di bawahnya banyak yang gagal,” ujar Yansah.
Baca juga: 75 Tahun Kabupaten Banjar, Banjar Rakat Hidup Barakat
Di lahan seluas 1 hektare yang ditanami padi, katanya, pada tahun lalu hasil panen dapat menyentuh angka hampir 5 ton beras.
Sedangkan untuk tahun ini, setengah dari 5 ton itu pun belum bisa memprediksi apakah dapat hasil panen maksimal atau tidak.
Ditambah dengan kondisi hujan yang berangsur-angsur terjadi karena Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalsel, diakuinya membuat lahan sawah miliknya yang siap panen jadi malah terendam air hujan.
“Yang jelas tempat kami itu tadah hujan bukan irigasi dan kemungkinan sungai-sungai kami banyak tersumbat gara-gara adanya gulma sejenis putri malu ini jadi proses penurunan air lambat,” ungkap dia.
Baca juga: Harusnya Panen, Padi Petani di Palam Malah Terendam, Tikus Mengintai
“Harapan kami adanya normalisasi yang mana ada sungai yang tersumbat dibersikan ada didalami lagi,” tutup Yansah. (Kanalkalimantan.com/wanda)
Reporter: wanda
Editor: bie
-
Bisnis21 jam yang laluTren Positif Investasi Saham dan Reksa Dana di Kalsel
-
HEADLINE3 hari yang laluSDA Kalsel Dikuras, Kerusakan Lingkungan Diabaikan
-
HEADLINE2 hari yang laluBerkas Kasus Pembunuhan Mahasiswi ULM Dilimpahkan ke Kejaksaan
-
Kabupaten Kapuas23 jam yang laluJelang Hari Raya Pemkab Kapuas Intensifkan Pengawasan Keamanan Pangan
-
Kabupaten Banjar3 hari yang laluPemkab Banjar Tindaklanjuti Kondisi Rumah Zainab Warga Lok Buntar
-
Kabupaten Kapuas20 jam yang laluPemkab Kapuas Gelar Rapat Penanganan Sengketa Tanah




