HEADLINE
Aksi Kamisan Refleksi Tragedi Kelam Jum’at Kelabu “Kerusuhan Massal Banjarmasin”
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Barisan Hitam Banjarbaru turun ke jalan mengingatkan kembali memori tragedi kelam kerusuhan massal dalam peta sejarah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Kalimantan Selatan (Kalsel).
Sebuah tragedi dinamai Jum’at Kelabu, kerusuhan massal di Kota Banjarmasin pada penghujung era Orde Baru kala masih menjadi Ibu Kota Provinsi Kalsel, tepatnya terjadi pada Jum’at 23 Mei 1997, hari terakhir kampanye partai politik jelang Pemilu 1997.
Belasan orang lintas unsur berkumpul di depan Balai Kota Banjarbaru, Kamis (22/5/2025) sore, merefleksi sekaligus menyuarakan tragedi kelam Kerusuhan Massal Banjarmasin mengenakan pakaian hitam khas kamisan. Dimana hingga kini jumlah korban tragedi Jum’at Kelabu itu masih tidak jelas.
Baca juga: Lelaki Tak Bernyawa di Sungai Kecil Jalan Sungai Salak, Ada Gayung dan Sikat Gigi

Syamsu Rizal, Kordinator Aksi Kamisan menyayangkan, pergantian Ibu Kota Provinsi ke Kota Banjarbaru sejak tahun 2022 sejalan dengan lunturnya jejak-jejak sejarah tragedi kelam yang pernah terjadi di di Kota Banjarmasin.
“Ini ajang yang juga kami bangun di Banjarbaru, kami himpun pemuda juga organisasi eksternal, bahkan Badan Eksektutif Mahasiswa yang masih mungkin punya spirit bahwa Banjarbaru sebagai ibu kota provinsi harus menjaga sejarah tragedi kelam yang terjadi di Banjarmasin,” ujar Syamsu Rizal, Kamis (22/5/2025) sore.
Tragedi kelam memakan banyak korban jiwa itu pula, mereka mengingatkan kembali serentetan peristiwa yang masih cacat dalam pengungkapan.
Beberapa peristiwa getir dan penting pernah terjadi di Kalsel, digambarkan mereka dalam gelaran poster-poster yang mereka bawa.
Selain mengingat kembali Jum’at Kelabu 23 Mei 1997 di Banjarmasin itu, salah satu yang juga menjadi perhatian adalah kasus kematian Juwita yang dihabisi Anggota TNI AL, Jumran.
“Tragedi bukan hanya Jumat Kelabu yang terjadi di bulan Mei, ada beberapa tragedi yang kami suarakan, termasuk kasus Juwita yang menjadi kasus ramai di nasional,” ungkapnya.
“Ada juga kemudian kasus Marsinah, beberapa pekan lalu kita juga peringati sampai hari ini belum terselesaikan,” tambah dia.
Baca juga: Jamin Kesehatan Sapi Kurban, Peternakan H Safrin Masih Punya Stok

Mereka menagih kembali janji keadilan oleh negara karena sejumlah kasus HAM hingga saat ini tetap tidak pernah ada titik terang.
“Besar harapan dari kami semua bahwa kasus Juwita ini dikawal sampai selesai, korban menjadi prioritas kami untuk terus kami perjuangkan hak-haknya meskipun sudah tiada,” harapnya.
Aksi Kamisan hadir sebagai bentuk spirit untuk mengawal berbagai HAM di masa lalu.
Pegiat HAM dan aktivisia kemanusian di Kalsel berharap kasus Juwita bisa dikawal tuntas hingga mendapat keadilan.
“Jangan sampai kemudian figur seperti Marsinah ataupun beberapa tokoh lainnya kemudian hilang,
sampai hari ini tidak terselesaikan kasusnya. Jangan sampai terjadi di kasus Juwita hari ini,” tutup Syamsu. (Kanalkalimantan.com/wanda)
Reporter: wanda
Editor: bie
-
HEADLINE3 hari yang laluSiti Nur Adlina dari MA Hidayatullah Martapura, Terpilih Anggota Paskibraka Nasional 2026 Wakili Kalsel
-
Kabupaten Hulu Sungai Utara2 hari yang laluTahfidz 10, 20, dan 30 Juz Putra Kafilah HSU ke Final
-
kampus2 hari yang laluTim Peneliti FKIP ULM Ciptakan Modul Ajar Ekologi dan Pelestarian Lahan Basah Berbasis 4K
-
OPINI2 hari yang laluRevisi UU Polri 2026: Antara Argumen Negara dan Kembalinya Dwifungsi
-
PUPR PROV KALSEL2 hari yang laluWujudkan Infrastruktur yang Berjualitas dan Aman, Dinas PUPR Kalsel Gelar Bimtek Pembinaan Jasa Konstruksi
-
Pendidikan2 hari yang laluEduAction Series #3 Kenalkan Anak Muda Peluang Belajar di Luar Negeri


