Budaya
‘Amuk Meratus’ Nove Arisandi Singgung Kerusakan Kawasan Meratus
BANJARBARU, Dengan penuh penghayatan seorang pemuda membacakan puisi ‘Amuk Meratus’ di panggung pentas Poetry in Action, Taman Mingguraya, Banjarbaru, Jum’at (26/1) malam. Satu bentuk upaya menyuarakan kondisi Meratus Alai di Kabupaten Hulu Sungai Tengah agar terus dipertahankan sebagai surga terakhir hutan tropis Kalsel.
Ya, Nove Arisandi (25), secara khusus membuat puisi ‘Amuk Meratus’ karena terinspirasi terkait adanya rencana kegiatan ekploitasi kawasan Meratus di HSU yang berpotensi merusak ekosistem hutan tropis terakhir di Kalsel itu.
“Kegelisahan hati itulah yang membuat diri saya terinspirasi untuk membuat puisi Amuk Meratus,†katanya kepada Kanal Kalimantan, usai pentas.
Menurut alumni Fakultas Pertanian ULM ini, ia mengutarakan rasa bangga terhadap kawasan pegunungan Meratus karena pegunungan Meratus khususnya yang ada di HST punya banyak biodiversitas dan kekayaan plasma nutfah yang terkandung di dalamnya.
“Kalau Meratus Alai sampai dibuka maka biodiversitas dan plasma nutfah tersebut akan musnah,†ujarnya. “Kalau Meratus sampai ditambang, maka hajat hidup manusia tidak bisa lagi diselamatkan,†ucapnya penuh dengan semangat.

Nove menyebut, Meratus Alai atau Meratus Hulu Sungai Tengah adalah surga terakhir yang harus dipertahankan. Karena kawasan pegunungan Meratus yang ada di daerah lain seperti Balangan, Tabalong, Tapin dan daerah lainnya sudah mengalami kerusakan sangat fatal akibat pertambangan.
Sebagai anggota Dewan Kerja Daerah Persatuan Anggrek Indonesia (PAI), Nove sangat mengharapkan agar Meratus Alai yang tersisa jangan sampai dirusak, karena menurutnya di Meratus tersimpan anggrek-angrek terbaik dunia. “Di dalam kawasan Meratus adalah pabrik anggrek terbaik dunia,†ucapnya.
Pengagum Sutarji Kalzum Bahri ini sudah menggeluti puisi semenjak kelas 4 SD, namun dirinya mengaku sempat menggeluti seni tari. Karena tari itu melelahkan, harus selalu latihan sebelum pementasan. Maka semenjak 2011, dirinya mengaku menekuni seni puisi.
Semenjak menggeluti dunia puisi, sudah tidak terhitung berapa banyak puisi yang dia tulis. Menurutnya kalau mau menuangkan sebuah puisi maka tinggal duduk dan langsung dituangkan. Terkait jenis puisi yang biasa ditulis, dirinya mengaku lebih condong kepada puisi mantra. Puisi dengan menggunakan bahasa daerah. “Susah mengerti, itulah ciri khas puisi saya,†katanya lagi.
Dalam penulisan puisi, terkadang ada kata-kata ambigu yang terkandung di dalam puisinya. Hal ini menurutnya sebagai sebuah strategi untuk memancing para pembaca untuk lebih dalam mengetahui isi puisi yang disampaikan. “Tadi dalam puisi Amuk Meratus ada kata-kata ambigu seperti perkosalah aku, perkosalah aku, itu semata-mata untuk memancing para pembaca untuk lebih tahu isi puisinya,†ucap pemuda kelahiran Barabai ini. (abdullah/rendy)
Editor : Abi Zarrin Al Ghifari
-
HEADLINE2 hari yang laluTok! Rapat Paripurna Setujui Pemberhentian Ketua DPRD Banjarbaru
-
Budaya2 hari yang laluMerawat Keroncong dalam Ekosistem Musik Banua
-
Kabupaten Banjar2 hari yang laluPemkab Banjar Serahkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Tambak Anyar Tengah
-
DPRD Kota Palangka Raya3 hari yang laluWakil Rakyat Palangka Raya Apreiasi kehadirian Wahana Anti Narkoba Center
-
Kabupaten Banjar2 hari yang laluWabup Banjar Pimpin Apel Hari Keluarga Nasional
-
DPRD KAPUAS2 hari yang laluAnggota DPRD Kapuas Apresiasi Layanan CT Scan RSUD dr Soemarno Sostroatmodjo


