Connect with us

Film

Kuyank (2026): Horor Kepercayaan Masyarakat Banjar, Perempuan dengan Tuntutan Sosial

Diterbitkan

pada

Poster Kuyank (2026) film dengan genre horor. Foto: Darihati Films

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Film Kuyank besutan sutradara Johansyah Jumberan resmi dirilis di seluruh bioskop Indonesia pada 29 Januari 2026.

Diproduksi Darihati Films, film ini merupakan prekuel dari film “Saranjana: Kota Gaib”. Sejumlah aktor ternama ikut berperan seperti Rio Dewanto, Putri Intan Kasela, Betari Ayu, Barry Prima, Ochi Rosdiana, Jolene Marie, dan Dayu Wijanto.

Film yang syuting di beberapa wilayah Kalimantan ini berhasil menembus 57.356 penonton di hari pertama dan 101.083 di hari kedua penayangannya.

Baca juga: Indonesian Idol Season 14: Top 15 Kontestan Bersaing di Babak Spektakuler Show Pertama

Kultur Budaya Banjar yang Kuat

Mengambil latar di Desa Sungai Tinggi, Nagara, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kuyank sukses membawa penonton menyusuri wilayah tua Suku Banjar yang identik dengan mitos, kepercayaan, dan kehidupan masyarakat sungai.

Latar dimanfaatkan bukan hanya sebagai ruang visual, melainkan fondasi budaya yang membentuk konflik cerita. Aktivitas jukung yang menyusuri aliran air dan deretan rumah lanting di atas sungai cukup menggambarkan kehidupan sungai. Sungai menjadi nadi kehidupan, ruang mobilitas, ruang domestik, sekaligus ruang simbolik yang kelak berperan penting dalam tragedi film.

Film ini memvisualkan praktik adat Banjar khususnya dalam prosesi pernikahan. Sebut saja Badatang, yang ditampilkan saat proses lamaran keluarga Badri (Rio Dewanto) kepada Rusmiati (Putri Intan Kasela). Proses ini diiringi Babilangan atau perhitungan adat yang diyakini memberitahukan kecocokan pasangan. Sayangnya, hasil Babilangan mereka menunjukkan bilangan habu di atas tihang yang artinya hubungan rapuh apabila dipaksakan.

Peringatan adat bertentangan dengan kehendak pribadi. Badri tetap bersikeras menikahi Rusmiati dengan tekad yang sudah terikat mati. Hal ini kemudian menjadi benih konflik utama film yang menampilkan ketegangan antara norma adat dan pilihan individu.

Selain kedua di atas, film Kuyank turut menghadirkan prosesi perkawinan khas Nagara yaitu tradisi Beusung. Tradisi ini membuat pengantin diusung sebagai penghormatan dan peralihan menuju fase hidup baru. Beusung menekankan keterlibatan keluarga dan lingkungan, serta memperkuat tradisi sebagai yang bukan saja ornamen budaya tetapi bagian penting dari struktur cerita.

Baca juga: Saat Sasirangan dan Soto Banjar jadi Perbincangan Pelajar di Taiwan

Gempuran Tekanan Sosial terhadap Tokoh Utama

Kuatnya tradisi di film menjelaskan posisi perempuan dalam institusi pernikahan. Rusmiati dipotret dalam keadaan rentan dalam struktur keluarga patrialkal. Tekanan kuat datang dari ibu mertua yang menyerahkan seluruh pekerjaan domestik kepadanya dan menilai kemampuan melahirkan keturunan sebagai harga dirinya.

Dari sisi Badri sendiri, dia tidak digambarkan sebagai tokoh antagonis, melainkan suami yang bertanggung jawab dan berafeksi kuat kepada sang istri Rusmiati. Berulang kali Badri berupaya menengahi perseteruan sang ibu dan istrinya. Dia kekeh menolak rencana keluarga untuk menikah lagi. Posisinya di sini terhimpit antara dua otoritas yakni sebagai anak dan sebagai suami.

 

Stigma Tubuh Perempuan Melahirkan Horor Paling Manusiawi

Tubuh Rusmiati tidak sepenuhnya di bawah kendalinya. Dia menjadi objek penilaian, pengawasan, dan tuntutan sosial. Tekanan berkembang menjadi wacana yang lebih ekstrem ketika Rusmiati tak kunjung punya anak. Keluarga Badri menyarankan untuk mencari istri lagi karena Rusmiati dianggap gagal memenuhi fungsi reproduktif.

Rapuhnya posisi sosial membuat ketakutan kolektif bagi perempuan yang disebut menyimpang dari peran ideal diantaranya istri patuh, subur, dan tidak membantah. Di titik inilah, Rusmiati bertransformasi menjadi kuyang akibat gempuran tekanan dan ketidakmampuan lingkungan memahami penderitaan perempuan.

Klimaks terjadi saat Rusmiati ketahuan sedang menjelma sebagai kuyang yang menjadikannya incaran warga. Di situasi genting itu, Badri melindungi Rusmiati untuk yang terakhir kalinya dengan mendorong tong berisi tubuh istrinya ke sungai, yang mana ruang ini merupakan saksi kehidupan mereka sedari awal.

Lalu Badri rela tinggal di rumah lanting yang kemudian dilalap api. Sedangkan Rusmiati, perempuan yang sejak awal ditekan, dinilai, dan disingkirkan, menjadi korban ketakutan kolektif masyarakat.

Kisah cinta berujung pengorbanan menjadi akhir cerita dengan ironi getir. Kuyank bukan sekadar menonjolkan sosok makhluk gaib sebagai sumber ketakutan, tetapi lebih ke metafora atas tekanan sosial perempuan yang diposisikan sebagai kuyang dalam menghadapi relasi keluarga dan institusi pernikahan dipengaruhi budaya patriarkal. (Kanalkalimantan.com/fahmi)

Reporter: fahmi
Editor: bie


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca