Connect with us

Kalimantan Selatan

BMKG: Kalsel Masih Kemarau Hingga Oktober

Diterbitkan

pada

Forecaster Iklim BMKG Kalsel, Erlina Natasya Kurniasari. Foto: wanda

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Hujan yang belakangan ini mengguyur sebagian sebagian wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) ternyata diyakini buah hasil dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Provinsi Kalsel sendiri diketahui belum memasuki musim penghujan, melainkan masih berada di kemarau. Bahkan puncak kemarau diprediksi akan menyusul terjadi di sejumlah wilayah lainnya.

Prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalsel bahwa periode musim kemarau masih akan berlangsung hingga Oktober 2025 mendatang.

Turunnya hujan di Kota Banjarbaru, Kota Banjarmasin, dan daerah lain di Kalsel dalam beberapa waktu terakhir ini bukanlah berasal dari fenomena alam, tetapi kondisi yang terjadi karena adanya OMC yang dilakukan pemerintah.

Baca juga: Simbol Kebanggaan HSU, Habib Syech Resmikan Tugu Sholawat Amuntai

“Kita ketahui bersama OMC di wilayah Kalsel dilaksanakan 10 hari, terhitung sejak tanggal 13 sampai 22 Agustus 2025,” ujar Forecaster Iklim BMKG Kalsel, Erlina Natasya Kurniasari kepada Kanalkalimantan.com.

Erlina menyebutkan tujuan utama dilakukannya OMC ini sebagai upaya untuk meningkatkan curah hujan, dan menjaga lahan gambut agar tetap basah, sehingga tidak mudah terbakar.

“Fungsi dari OMC adalah untuk antisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu sendiri,” sebut dia.

Kendati demikian, ia memgimbau kepada seluruh masyarakat di Kalsel agar tetap waspada terhadap potensi terjadinya karhutla dengan tidak melakukan kegiatan yang dapat memicu adanya api.

Baca juga: Warga Penuhi “HSU Bersholawat” Bersama Habib Syech di Lapangan Pahlawan Amuntai

Sementara, kepastian berakhirnya musim kemarau di Kalsel sendiri katanya diprediksi sekitar bulan Agustus, September, dan Oktober.

Di sisi lain BMKG belum bisa memprediksi musim hujan di Kalsel akan dimulai, sebab proses pengolahan data awal musim hujan saat ini masih berjalan.

“Untuk musim hujan juga sedang kami proses untuk diolah, untuk penentuan awal musim hujannya,” ungkapnya.

Masih kata Erlina, musim kemarau tidak selalu identik dengan ketiadaan hujan, namun saat kemarau bisa saja terjadi hujan dengan intensitas atau akumulasi yang kecil.

Baca juga: Masyarakat Penuhi Malam Puncak Pesta Rakyat Kapuas Bersinar Hari Kemerdekaan

Sekalipun turun hujan dengan akumulasi yang rendah tetap menandakan wilayah tersebut masih berada dalam periode kemarau.

“Kadang ada hujan tapi curahnya sedikit, misalnya hanya 10 milimeter, itu tetap masih musim kemarau,” jelasnya.

Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi meningkatnya curah hujan, seperti dari faktor lokal karena ada topografi, suhu, dan kelembapan udara memainkan peran penting. Serta, faktor regional seperti posisi geografis, pola angin (monsun), fenomena iklim seperti ENSO dan IOD turut berkontribusi.

“Seperti nanti ada angin, tekanan, dan yang lain itu sangat mempengaruhi,” tutup dia. (Kanalkalimantan.com/wanda)

Reporter: wanda
Editor: bie


iklan

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca