OPINI
Artificial Intelligence (AI) : Antara Inovasi dan Tanggung Jawab Sosial
Oleh : Rifqi Ilhami
Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah menjadi bagian dari kehidupan manusia modern. Teknologi ini bukan lagi sekadar gambaran masa depan, melainkan sudah hadir dan memengaruhi cara manusia bekerja, belajar, serta mengambil keputusan. Hal ini semakin saya rasakan setelah mengikuti sebuah seminar yang secara khusus membahas perkembangan, peluang, dan tantangan AI di berbagai sektor. Dari forum tersebut, terlihat jelas bahwa AI membawa potensi besar bagi kemajuan, namun juga menyimpan risiko sosial yang tidak bisa diabaikan.
Dalam seminar itu dijelaskan bahwa AI merupakan puncak perkembangan teknologi digital yang menggabungkan kekuatan komputasi, data besar (big data), dan algoritma cerdas. AI mampu meniru cara berpikir manusia, seperti mengenali pola, mengambil keputusan, bahkan memprediksi kemungkinan di masa depan. Tidak mengherankan jika teknologi ini sudah banyak digunakan di bidang pendidikan, industri, kesehatan, hingga tata kelola pemerintahan. Negara atau lembaga yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap AI diyakini akan memiliki keunggulan di era global.
Di sektor pendidikan, AI membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. AI memungkinkan sistem belajar yang lebih personal, dimana materi dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing siswa. Guru dan dosen terbantu dalam proses evaluasi, sementara peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang lebih efektif. Jika akses terhadap teknologi ini dapat diperluas secara merata, AI berpotensi mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan.
Baca juga: Bisa Naik 7%! Cek Simulasi Kenaikan UMP 2026 Kalimantan Selatan Dengan Rumus Baru
Sementara di sektor ekonomi dan industri, AI menjadi pendorong utama efisiensi dan produktivitas. Otomatisasi berbasis AI mampu mempercepat proses produksi, menekan biaya operasional, serta meningkatkan ketepatan analisis pasar. Perusahaan yang mampu memanfaatkan AI dengan baik akan lebih siap menghadapi persaingan yang semakin ketat. Bahkan bagi usaha kecil dan menengah, AI dapat menjadi peluang untuk bersaing melalui pemanfaatan teknologi digital secara cerdas.
AI juga mulai memainkan peran strategis dalam layanan publik. Di berbagai negara, AI digunakan untuk pengelolaan data kependudukan, layanan kesehatan, hingga perencanaan kebijakan berbasis data. Dengan dukungan AI, proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat. Jika diterapkan secara tepat, AI berpotensi meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel.
Namun, optimisme terhadap AI tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap dampak negatifnya. Salah satu isu utama adalah ancaman terhadap lapangan pekerjaan. Otomatisasi berbasis AI berpotensi menggantikan jenis pekerjaan tertentu, terutama yang bersifat rutin dan administratif. Tanpa strategi transisi yang matang, kondisi ini dapat memicu pengangguran struktural dan memperlebar kesenjangan sosial.
Selain itu, persoalan bias algoritma menjadi tantangan serius dalam pengembangan AI. Algoritma AI bekerja berdasarkan data yang diberikan manusia. Jika data tersebut bias atau tidak mewakili kelompok tertentu, maka keputusan yang dihasilkan AI berpotensi diskriminatif. Dalam konteks sosial, hal ini dapat berdampak pada ketidakadilan dalam proses rekrutmen kerja, pelayanan publik, bahkan penegakan hukum. AI yang seharusnya membantu manusia justru bisa memperkuat ketimpangan yang sudah ada.
Isu lain yang tidak kalah penting adalah perlindungan data pribadi. AI membutuhkan data dalam jumlah besar agar dapat bekerja secara optimal. Tanpa regulasi yang kuat, data pribadi masyarakat sangat rentan disalahgunakan. Kebocoran data, pengawasan berlebihan, dan manipulasi informasi menjadi ancaman nyata di era AI. Dalam kondisi ini, masyarakat sering berada pada posisi lemah akibat rendahnya literasi digital dan belum kuatnya perlindungan hukum.
Baca juga: Telah Resmi! UMP 2026 Kalimantan Tengah Naik 6,12%
Oleh karena itu, pengembangan AI tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan inovasi teknologi dan pertumbuhan ekonomi semata. AI adalah produk buatan manusia yang sarat dengan nilai dan kepentingan. Karena itu, pengembangannya harus disertai kesadaran etis dan tanggung jawab sosial. Pendekatan yang berpusat pada kemanusiaan menjadi sangat penting agar AI tetap berpihak pada manusia, bukan sekadar alat untuk mengejar keuntungan atau mengontrol masyarakat.
Dalam seminar yang saya ikuti, ditegaskan bahwa AI tidak bersifat netral nilai. Setiap teknologi selalu membawa nilai dari pihak yang merancang dan menggunakannya. Jika AI dikembangkan tanpa landasan etika yang kuat, ia bisa berubah menjadi alat dominasi baru yang mengancam kebebasan dan martabat manusia. Sebaliknya, jika diarahkan oleh prinsip keadilan, inklusivitas, dan tanggung jawab sosial, AI dapat menjadi sarana pemberdayaan yang sangat kuat.
Indonesia sebagai negara berkembang menghadapi tantangan sekaligus peluang besar di era AI. Di satu sisi, Indonesia memiliki bonus demografi dan potensi sumber daya manusia yang besar. Namun di sisi lain, kesiapan regulasi, infrastruktur, dan literasi digital masih perlu banyak pembenahan. Tanpa kebijakan yang tepat, Indonesia berisiko hanya menjadi pengguna teknologi, bukan pelaku utama dalam pengembangan AI.
Pemerintah perlu mengambil peran strategis dalam merumuskan kebijakan AI yang berpihak pada kepentingan publik. Regulasi terkait perlindungan data pribadi, pencegahan diskriminasi algoritma, dan akuntabilitas penggunaan AI harus diperkuat. Selain itu, investasi di bidang pendidikan dan pelatihan berbasis teknologi menjadi sangat penting agar tenaga kerja Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.
Lembaga pendidikan juga memegang peran penting dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga kritis secara etis. Kurikulum yang mengintegrasikan literasi digital, etika teknologi, dan kemampuan berpikir kritis perlu dikembangkan. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga mampu memahami dampak sosial dan moral dari teknologi tersebut.
Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat sipil menjadi kunci dalam mengelola perkembangan AI secara bertanggung jawab. Tidak ada satu pihak pun yang mampu menghadapi tantangan AI sendirian. Forum publik, seminar, dan ruang partisipatif seperti yang saya ikuti perlu terus diperluas agar masyarakat memiliki pemahaman yang utuh tentang AI dan dampaknya.
Pada akhirnya, AI harus diposisikan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan untuk menggantikan peran manusia itu sendiri. Inovasi teknologi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan kesadaran etis. Tanpa keseimbangan tersebut, kemajuan AI justru berpotensi melahirkan persoalan baru yang lebih kompleks.
Seminar yang saya ikuti menjadi pengingat penting bahwa masa depan AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh nilai-nilai yang kita pilih hari ini. AI adalah cerminan peradaban manusia. Jika kita menginginkan masa depan yang adil dan manusiawi, maka pengembangan AI harus diarahkan untuk kepentingan bersama, menjaga martabat manusia, dan memperkuat keadilan sosial. (***)
Editor: kk
-
HEADLINE2 hari yang laluSudah Sah! Daftar Lengkap UMP dan UMK Kalimantan 2026 di Semua Provinsi, Ada yang Tembus Rp3,7 Juta
-
Kota Banjarmasin3 hari yang laluMalam Pergantian Tahun, Ini Imbauan Pemko Banjarmasin
-
HEADLINE3 hari yang laluRilis Akhir Tahun Polda Kalsel: 5.538 Kasus Kejahatan, Pecat 25 Anggota Polisi, 13 Kasus Bunuh Diri
-
HEADLINE2 hari yang lalu66 Kasus Laka Lantas di Banjarmasin 2025, 20 Orang Meninggal Dunia
-
Kota Banjarbaru3 hari yang laluKapolres Banjarbaru: Tak Ada Izin Pesta Kembang Api
-
Kabupaten Banjar3 hari yang laluBupati Banjar Serahkan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir



