Connect with us

HEADLINE

El Nino Bikin Kemarau Lebih Panjang dan Kering

Diterbitkan

pada

BMKG mengingatkan fenomena El Nino fase sangat kuat membuat musim kemarau di Indonesia lebih panjang dan kering. Kondisi ini meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi, terutama Karhutla. Foto: dok.kanalkalimantan

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan fenomena El Nino fase sangat kuat membuat musim kemarau di Indonesia berlangsung lebih panjang dan kering. Kondisi ini meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi, terutama kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Situasi tersebut menuntut kesiapsiagaan berkelanjutan dari seluruh pihak untuk mengantisipasi dampak kekeringan dan potensi Karhutla di berbagai wilayah Indonesia.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki mengatakan, meskipun puncak musim kemarau dan El Nino telah terlewati pada Agustus hingga September, dampaknya masih dirasakan secara signifikan di sejumlah wilayah.

Baca juga: Sepekan Cuaca Kalsel Cerah Berawan, Ada Potensi Hujan Ringan Lokal 

Dalam konferensi pers Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Kemenko Polkam, Jakarta, Kamis (1/10/2026) siang, Marjuki menjelaskan, peningkatan suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur menyebabkan perairan Indonesia mengalami pendinginan. Kondisi tersebut mengurangi potensi uap air dan menghambat pertumbuhan awan.

“Sejak Maret pula kami memprediksi akibat dari aktifnya El Nino berbarengan dengan musim kemarau, maka musim kemarau kita secara umum itu akan menjadi lebih panjang dan menjadi lebih kering,” ujar Marjuki.

Berdasarkan pemodelan cuaca BMKG, El Nino diprediksi masih bertahan hingga awal 2027. Dampaknya, awal musim hujan di Indonesia diperkirakan mundur dari waktu normal.

Baca juga: MPA Berjibaku Padamkan Karhutla di Dusun Tuanan

BMKG mencatat sebanyak 529 zona musim atau setara dengan 61,08% luasan daratan Indonesia mengalami kemunduran awal musim hujan.

Sementara itu, 26 zona musim diperkirakan memasuki musim hujan sesuai waktu normal, sedangkan 11 zona musim mengalami awal musim hujan lebih maju.

 

Hujan November

Marjuki mengatakan, pada Oktober, wilayah-wilayah di selatan ekuator masih cenderung mengalami curah hujan yang sangat rendah sehingga kondisi tetap kering.

Kondisi tersebut diperkirakan mulai membaik pada November. Wilayah selatan ekuator mulai mencatatkan curah hujan kategori menengah, sebelum musim penghujan secara bertahap meluas ke berbagai wilayah Indonesia.

Pada Desember, wilayah Indonesia diproyeksikan mulai memasuki musim penghujan secara lebih merata dan mendekati pola normal. Meski demikian, potensi kekeringan dan Karhutla tetap perlu diantisipasi selama kondisi cuaca masih mendukung terjadinya dampak tersebut.

 

Pemantauan Cuaca

Menghadapi kondisi iklim tersebut, BMKG terus mengintensifkan pemantauan cuaca dan memperkuat koordinasi lintas instansi. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan mitigasi dampak kekeringan sekaligus mendukung operasi penanganan karhutla di sejumlah daerah prioritas.

Dengan pemantauan kondisi cuaca dan iklim secara berkelanjutan, upaya penanganan diharapkan dapat disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan. Kesiapsiagaan berbagai pihak menjadi penting untuk mengurangi risiko bencana selama periode kemarau yang lebih panjang dan kering. (Beritasatu/kk)

Editor: kk


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca