HEADLINE
Hujan Tak Redakan Asap Tebal Karhutla di Palangka Raya
KANALKALIMANTAN.COM, PALANGKA RAYA – Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, meski wilayah ini sempat diguyur hujan pada Sabtu (26/9/2026) sore.
Kabut asap membuat jarak pandang di sejumlah wilayah Kota Palangka Raya semakin terbatas. Kualitas udara juga berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, jarak pandang atau visibility di wilayah Kota Palangka Raya berada pada kisaran 300 hingga 500 meter.
Sementara itu, konsentrasi partikulat PM 2.5 tercatat mencapai 786 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut menempatkan kualitas udara di Palangka Raya dalam kategori berbahaya.
Baca juga: Udara Palangka Raya Disebut Normal, Warga: Coba Berkantor Sebulan di Sini
Kabut asap akibat Karhutla mulai berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari ancaman kesehatan, terganggunya kegiatan pendidikan, hingga operasional transportasi udara di Bandara Tjilik Riwut.
Gangguan penerbangan telah terjadi sejak Rabu (17/9/2026). Sejumlah maskapai terpaksa membatalkan penerbangan hingga menghentikan sementara operasional karena jarak pandang di landasan pacu dinilai terlalu berisiko bagi keselamatan penerbangan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi, mengatakan, hingga kini Satuan Tugas (Satgas) masih melakukan pemadaman dan pendinginan di puluhan lokasi.
“Hingga saat ini masih ada 27 lokasi yang dalam penanganan, baik pemadaman maupun pendinginan di lahan yang terbakar, seperti di wilayah Kecamatan Jekan Raya, Kecamatan Sebangau, Kecamatan Pahandut, dan Kecamatan Bukit Batu,” ujar Heri kepada Beritasatu.com, Minggu (27/9/2026).
Baca juga: 71 Korban Kapal Virgo Masih dalam Pencarian, Operasi SAR Diperpanjang
Heri menambahkan, luas lahan terbakar yang telah ditangani Satgas Kota Palangka Raya mencapai sekitar 1.311 hektare. Namun, proses pemadaman di kawasan gambut masih menghadapi sejumlah kendala teknis, terutama keterbatasan sumber air.
“Kendala di lapangan masih terhambat dengan minimnya sumber air. Namun kita bersyukur, masyarakat yang ada di sekitar lokasi kejadian bersedia mengizinkan kita menggunakan sumur bor milik mereka,” jelasnya.
Untuk memperkuat upaya pemadaman, pemerintah tidak hanya mengandalkan tim di darat, tetapi juga mengerahkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pesawat pembenih awan diterbangkan dari Kalimantan Selatan untuk memicu hujan buatan di sejumlah titik rawan di wilayah Palangka Raya.
Hujan buatan sempat turun di beberapa lokasi. Namun, intensitasnya dinilai belum cukup untuk memadamkan bara api yang masih menjalar di lapisan tanah gambut. Satgas mencatat curah hujan yang dihasilkan melalui teknologi modifikasi cuaca masih relatif tipis.
Baca juga: Dinsos Kalsel Salurkan Air Bersih di Tiga Titik Banjarmasin
“Mungkin kalau hujannya agak lebat dan bertahan beberapa jam atau seharian, baru bisa efektif mengurangi dampak kebakaran secara signifikan,” tambah Heri.
Penanganan Karhutla di Kota Palangka Raya masih terus dilakukan. Setiap hari, Satgas Karhutla harus menangani lebih dari 10 titik api, baik titik api baru maupun lahan gambut yang masih dalam proses pembasahan atau wetting agar tidak kembali terbakar. (Beritasatu/kk)
Editor: kk
-
Kalimantan Selatan1 hari yang lalu11 Korban Kapal Virgo Transport 8 Kembali Ditemukan
-
HEADLINE2 hari yang laluUdara Palangka Raya Disebut Normal, Warga: Coba Berkantor Sebulan di Sini
-
Kabupaten Kapuas3 hari yang laluISPA di Kapuas Capai 2.465 Kasus, Kecamatan Selat Tertinggi
-
Budaya1 hari yang laluPentas Seni “Tujuh Sumbu Budaya di Nagara Dipa”
-
Kalimantan Selatan9 jam yang lalu32 Korban Kapal Virgo Proses Identifikasi, 25 Orang Berhasil Diidentifikasi
-
Lifestyle2 hari yang laluPestapora 2026 Bareng BRImo, Dapatkan Ragam Hadiah Spesial


