OPINI
Tindakan Represif Polisi, Ahli Hukum: Upaya Akhir Meredam Perbuatan Melawan Hukum atau Anarkis
Menyikapi soal unjuk rasa mahasiswa menolak Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja belakangan ini, membuat polisi melakukan pemanggilan dan mengamankan beberapa mahasiswa untuk dimintai keterangan.
Hal tersebut diduga dilakukan terkait adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan pada saat terjadi unjuk rasa. Berbagai macam komentar bermunculan menanggapi tindakan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.
Berikut adalah pendapat Daddy Fahmanadie SH LLM, seorang ahli hukum pidana dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin :
Dalam era demokrasi unjuk rasa dibolehkan sebagai bagian dari bentuk menyampaikan pendapat serta sah di mata hukum juga Undang-Undang berkaitan terhadap pelanggaran pada unjuk rasa. Menurut pakar hukum pidana Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Daddy Fahmanadie SH LLM, rentan terjadi apalagi jika menjurus pada rusuh, nah tentu kehadiran aparat pada posisi berhadapan dengan unjuk rasa adalah sebagai pihak yang di tengah. Serta mengamankan situasi jadi posisi keduanya sama-sama sesuai aturan hukum, namun dalam proses demo dan pengamanan tentu semua harus dilakukan dalam koridor yang sesuai, tidak dalam kontek membuat rusuh atau tindakan yang merugikan masyarakat, bahkan fasilitas umum sebaliknya. Soal tindakan kepolisian yang preventif dan dibenarkan juga represif, sebagai upaya terakhir untuk meredam situasi unjuk rasa jika terjadi kondisi atau keadaan yang tentu mengarah pada melawan hukum atau anarkis.
Polri sendiri menganut aliran positivis, dalam arti normatif pasal 1 KUHP tentu kacamatanya perbuatan adalah sesuai dengan Undang-Undang itu sendiri, tetapi di sisi lain dalam penanganan unjuk rasa aspek normatif itu harus diimbangi dengan nuansa progresif dan asas proporsional dalam penanggulangan unjuk rasa.
Jadi polisi juga harus mengedepankan preventif dalam penanggulangan unjuk rasa, meskipun pasti akan terdapat dilematis dalam praktek sebab suasana unjuk rasa sangat berpengaruh, tetapi justru hal teknis tersebut yang harus semakin menjadi parameter untuk penanganan unjuk rasa.
Ini tentu sah-sah saja sebagai bentuk opini masyarakat, akan tetapi perihal apakah ada perbuatan yang melanggar hukum atau tidak tentu akan berbeda sudut pandang dan penilaian. (daddy fahmanadie)
-
Kota Banjarbaru1 hari yang laluTukar Posisi 7 Pejabat Eselon II Pemko Banjarbaru, 91 ASN Mutasi dan Promosi
-
HEADLINE2 hari yang laluBNPB Kerahkan Dua Pesawat Cessna Operasi Modifikasi Cuaca di Kalteng
-
Hukum3 hari yang laluTipu-tipu Ngaku Anggota Polisi, Warga Gunung Tinggi Tanbu Ini Berakhir Bui
-
Kabupaten Banjar1 hari yang laluPanen Padi di Beruntung Baru, Bupati Banjar Apresiasi Semangat Petani Meski Hadapi Tantangan Cuaca
-
HEADLINE2 hari yang lalu“BAPINTAR” Diskominfo Banjarbaru, Membaca Dinamika Publik dari Informasi Digital
-
Kota Banjarbaru2 hari yang laluBanjarbaru Siaga Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan


