Connect with us

HEADLINE

Penyelam Basarnas Berupaya Masuk Kapal Virgo, Kompartemen Bawah Paling Sulit dan Berbahaya

Diterbitkan

pada

Kepala Kantor SAR Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana, SAR Mission Coordinator mengatakan tim Basarnas memperhitungkan kondisi arus bawah laut yang cepat berubah dalam operasi pencarian korban Kapal Virgo Transport 8. Foto: Antara/Tumpal Andani Aritonang

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Tim Basarnas memperhitungkan kondisi arus bawah laut yang cepat berubah dalam operasi pencarian korban kecelakaan Kapal Virgo Transport 8. Kondisi laut yang teduh menjadi kesempatan penting bagi penyelam Basarnas Special Group (BSG) untuk masuk ke badan kapal yang tenggelam.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Banjarmasin, I Putu Sudayana mengatakan, tim penyelam harus memanfaatkan waktu ketika arus bawah laut mulai teduh dan gelombang mengecil. Menurutnya, kondisi tersebut tidak berlangsung lama sehingga penyelam harus segera turun ketika situasi memungkinkan.

“Saat arus bawah laut teduh, gelombang mulai kecil, waktu itulah yang dimanfaatkan oleh tim penyelam untuk segera melaksanakan penyelaman, dan itu waktunya tidak berlangsung lama,” kata SAR Mission Coordinator di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (21/9/2026) malam.

Baca juga: 22 Penumpang Kapal Virgo Transport 8 Tak Tercatat Manifes

Putu mengatakan tim memaksimalkan setiap kesempatan penyelaman ketika kecepatan arus berada di bawah 2,5 knot. Kondisi tersebut memungkinkan penyelam masuk ke badan kapal untuk melakukan pencarian dan evakuasi korban.

“Dengan berkejaran dengan waktu, tetapi kita bisa memaksimalkan waktu yang ada sehingga beberapa korban kita berhasil evakuasi. Berkat cara ini, penyelam berhasil menemukan dan mengevakuasi lima jasad dari dalam kapal yang tenggelam pada operasi SAR hari kesembilan,” ujarnya.

 

Bawah Kapal

Putu menjelaskan bagian bawah kapal menjadi salah satu area paling sulit dan berisiko dijangkau penyelam. Tim harus memperhitungkan kondisi dan kestabilan kapal ketika memasuki kompartemen tersebut.

Menurutnya, perubahan posisi kapal dapat membahayakan penyelam yang berada di dalam ruang kapal saat pencarian berlangsung. “Paling sulit dan paling berbahaya dijangkau adalah kompartemen yang bagian bawah. Di sanalah yang paling sulit dan berisiko, karena begitu kita masuk ke bagian bawah kapal, kita tidak tahu kestabilan kapal saat ini,” katanya.

Selain kondisi kapal, penyelam juga harus memperhatikan teknik saat memecahkan kaca untuk menjangkau bagian tertentu di dalam badan kapal.

Baca juga: Polda Kalteng Proses 123 Kasus Karhutla, 28 Orang Tersangka

Putu mengatakan pecahan kaca dapat menimbulkan dorongan kuat yang berpotensi membahayakan penyelam apabila berada tepat di depan kaca ketika dipecahkan. “Begitu kaca pecah, ini akan ada dorongan yang luar biasa. Ini akan membahayakan untuk penyelam sendiri,” ujarnya.

Karena itu, berbagai kondisi tersebut menjadi perhatian tim selama pencarian. Terlebih, penyelam harus bekerja di kedalaman dan memasuki ruang-ruang kapal yang tersekat.

Putu menegaskan setiap kesempatan penyelaman harus dimanfaatkan secara maksimal, tetapi tetap dengan mempertimbangkan keselamatan personel yang berada di bawah laut.

 

123 Orang Ditemukan

Hingga Senin (21/9/2026) pukul 22.00 Wita, Basarnas mengonfirmasi sebanyak 123 korban telah ditemukan dari 243 orang yang tercatat dalam manifes KM Virgo Transport 8.

Dari 123 korban yang ditemukan, sebanyak 108 orang dinyatakan selamat, sedangkan 15 orang meninggal dunia. Sementara itu, sebanyak 120 korban lainnya masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan. (Beritasatu/kk)

Editor: kk


iklan

Komentar

MUSIC HITS with VOA


Disarankan Untuk Anda

Paling Banyak Dibaca