Connect with us

Kabupaten Banjar

Tayuh Bertahan Para Pamulutaan

Diterbitkan

pada

MARTAPURA – Kian jamak terlihat di seputaran Martapura dan Banjarbaru, toko atau kios menjual burung. Dari kios yang sekadar dibuat tak permanen, hingga di rumah toko (ruko) yang saat ini juga kian menjamur, banyak jenis burung, baik burung kicauan seperti Murai Batu, Kacer, dan Cucak Ijo, maupun burung bukan kicauan dijajakan.

Kian menjamurnya toko atau kios penjual burung, bisa jadi pertanda meningkatnya permintaan dari kalangan penghobi binatang peliharaan jenis unggas ini. Di tengah kondisi tersebut, ketersediaan burung yang ditangkap dari alam, menjadi potensi peluang penghasil rupiah selain upaya pengembangbiakan burung dengan cara ternak.

Seperti yang dilakoni Anang, warga Desa Pingaran Ulu, Kecamatan Astambul. Menurutnya, pekerjaan sebagai pencari burung, ada juga yang menyebutnya pamulutan burung sudah dilakukan Anang sejak puluhan tahun silam. Sebelum toko atau kios penjual burung sebanyak seperti sekarang ini.

“Sekitar tahun 1997 sudah keluar masuk hutan mencari burung. Dari harga burung kicauan jenis kacer dan murai hanya belasan ribu,” kata Anang saat ditemui Kalimantan View di rumahnya, Selasa (2/4) pekan lalu.

Tak hanya hutan di sekitaran Kabupaten Banjar yang ia jelajahi, untuk mencari burung dengan cara memancingnya dengan burung yang sudah jinak, dan gacor berkicau agar burung liar mendekat, Anang menyebutnya burung pikatan, tapi juga belantara di luar Kabupaten Banjar.

Paling jauh mencari burung, ujar pria empat anak yang juga akrab disapa Anang Burung ini, hingga ke daerah Asam-Asam, Pelaihari. Saat mencari burung ke tempat jauh, minimal satu pekan ia dan beberapa rekannya baru kembali ke rumah. Untuk bertahan hidup selama di hutan, bekal makanan selalu disiapkan.

“Bawa beras. Gula, kopi dan garam tidak pernah ketinggalan. Sering juga saya bawa santan siap saji dalam kemasan untuk menyayur selama di hutan,” ujarnya.

Anang mengaku selalu membawa terpal ukuran 2×3 meter, yang digunakan sebagai tenda saat tak menemukan gubuk, di tengah hutan. “Jika tidak ketemu lampau, ya tidur di bawah tenda terpal yang kami bawa,” imbuhnya.

Burung-burung hasil tangkapannya biasa dijual ke beberapa pengumpul dan penjual burung di Banjarbaru dan Martapura, dengan harga tak sama sesuai jenis burung yang diperolehnya. Tapi untuk burung jenis kicauan, seperti Murai Batu, Kacer atau dalam bahasa setempat disebut Tinjau, dan Cucak Ijo biasa ia bandrol Rp200 – Rp300 ribu.

Kendati harga jual per ekor burung hasil tangkapannya kini dihargai ratusan ribu, pun di tengah tingginya permintaan burung di kalangan penghobi, namun menurut Anang pekerjaan mencari burung kian tak dapat diharapkan sebagai mata pencaharian utama. Populasi burung yang terus berkurang di tengah hutan, membuat pekerjaan mencari burung saat ini sebagai pekerjaan sampingan setelah menggarap sawah.

“Dahulu burung di hutan masih banyak. Tiap kali masuk hutan minimal 50 burung didapat. Tapi sekarang bisa dapat lima burung saja sudah untung. Jadi ” kata Anang yang mengaku hasil penjualan burung masih harus dibagi rata dengan beberapa rekannya. (rud)

Bagikan berita ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Lanjutkan membaca
Advertisement
Komentar
-->