Tadinya tidak Suka, Kini Malah Sering Diundang - Kanal Kalimantan
Connect with us

HEADLINE

Tadinya tidak Suka, Kini Malah Sering Diundang

Diterbitkan

pada

MARTAPURA – Keterampilan bermain musik panting yang sekarang ditekuni Indra Gunawan, sebelumnya ternyata tidak disukainya. Namun setelah mengenal lebih dalam tentang seni musik ini, dia malah sering diundang ke luar kota untuk memainkan seni musik tradisional Banjar tersebut.

Menurut Seniman Musik Panting dari Sanggar Ar Rumi STAI Darussalam, Indra Gunawan kepada Koran Banjar, belum lama ini, belajar panting pada waktu sebelumnya diakui Indra tidak disukai. Bahkan dia menilai, tidak ada kelebihan dalam bermain musik panting.

Tapi setelah melihat beberapa penampilan musik panting sejak tahun 2010 di beberapa pertunjukan, dia mulai tertarik. Sewaktu masuk kuliah di STAI Darussalam, dia berharap bisa menemukan seni musik panting. Namun ternyata, setelah memasuki STAI Darussalam dan masuk dalam Sanggar Ar Rumi, teryata juga tidak ada musik panting.

Selanjutnya, sekitar tahun 2011, barulah musik panting diajarkan di Sanggar Ar Rumi. Lalu dia belajar dengan pendahulu Sanggar Ar Rumi, yaitu Rajuddin.
“Belajar panting itu susah dan memerlukan waktu yang lama, sewaktu belajar pada waktu itu dalam seminggu dapat tiga buah lagu, dan masih belajar sampai sekarang,” ungkapnya.
“Saya sering tampil di seputaran Kabupaten Banjar , pernah paling jauh ke Buntok Kalimantan Tengah,” imbuhnya.

Alasan kenapa memilih panting daripada yang lain? Karena, Panting itu adalah kesenian khas dari Kalimantan Selatan. Dia berfikir kalau tidak kita sebagai generasi muda, siapa lagi yang melestarikan. Lagipula, secara turun temurun, keluarganya memang berasal dari keluarga seniman.

“Datu, Kakek, Kakek nya Kakek, Mama dan Amang semua seniman. Kakek pemain Panting , Kakek pemain biola dan Kakek satu nya pemain babun, penari nya Mama dan Amang, jadi saya pemain musik panting dari turunan kakek ke cucu,” jelasnya.

Permainan musik panting, katanya, sering ditampilkan pada acara-acara resepsi perkawinan, acara menunggu pejabat datang atau pada saat jeda istirahat acara, dan acara seminar-seminar lainnya.

Sedangkan pengalaman menarik, pernah mendapat undangan ke luar daerah. Ketika perjalanan berangkat ke tempat yang jauh, dan itulah pengalaman yang sangat berkesan. “Kalau tidak ikut dalam berkesenian di sini, mana mungkin bisa jalan-jalan ke luar kota. “ ungkap putera dari Pasangan Abdurahman dan Mariani ini.

Harapan ke depan, kesenian tradisional musik panting kepada kawula muda agar lebih mencintai kesenian sendiri, terutama musik panting. Jangan sampai terpengaruh budaya luar seperti k-pop, dance, atau beatbox. Apalagi musik Panting adalah musik tradisional dari suku Banjar di Kalimantan Selatan.

Sekedar diketahui, asal usul panting pertama kali adalah dari daerah Desa Pandahan Kabupaten Tapin. Diperkirakan muncul sejak tahun 1874. Disebut musik panting karena didominasi oleh alat musik yang dinamakan Panting , sejenis gambus yang memakai senar (panting) maka disebut musik Panting.

Panting merupakan alat musik yang dipertik yang berbentuk seperti gambus arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada waktu dulu musik panting hanya dimainkan secara perorangan atau secara solo. Karena semakin majunya perkembangan zaman dan musik panting akan lebih menarik jika dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya seperti alat-alat musik seperti babun, gong, dan biola dan pemainya juga terdiri dari beberapa orang. Nama muusik panting berasal dari nama alat musiknya.(naw)

Bagikan berita ini!
Advertisement
Komentar

Headline

Trending Selama Sepekan