Petani Karet Mulai Beralih Tanam Cabai - Kanal Kalimantan
Connect with us

Ekonomi

Petani Karet Mulai Beralih Tanam Cabai

Diterbitkan

pada

ASTAMBUL – Harga karet di tingkat petani yang tak kunjung membaik beberapa tahun terakhir, memaksa petani karet di Kabupaten Banjar mengistirahatkan lahannya. Mereka mulai mencoba peruntungan dengan menanam cabai.

Seperti yang dilakukan Siman, petani karet di Desa Pingaran Ulu, Kecamatan Astambul. Sejak harga karet melorot di angka Rp 5.000, pria yang juga pensiunan buruh sadap di PTPN 13 Danau Salak ini memilih menanam cabai. Tergabung di kelompok tani yang ada di desanya, ribuan benih cabai jenis beauty bantuan dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Banjar ia tanam di atas lahan kurang lebih satu hektare miliknya.

“Saat ini karet tidak lagi dapat diharapkan karena harganya yang tak kunjung naik. Karena itu saya mulai coba menanam cabai saja,” kata Siman saat ditemui di areal kebun cabai miliknya, Selasa (5/9/17).

Harga cabai yang saat ini, masih cukup baik. Yakni Rp70.000 per kilogram untuk cabai rawit, dan Rp 40.000 untuk cabai tiung. Menurutnya, jika harga cabai stabil dan benih yang ditanamnya baik, ia bahkan berencana mengganti pohon karet dengan tanaman cabai dan beberapa jenis tanaman sayur lainnya. Terlebih lagi, kebun karet miliknya tinggal menunggu masa peremajaan.

Sementara Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Banjar Dondit Bhekti, menilai, keinginan petani mengganti karet dengan komoditi lain adalah wajar di tengah keterpurukan harga karet.

Menurutnya, pemerintah tak dapat melarang jika memang para petani berniat mengganti karet dengan tanaman lain, komoditi perkebunan maupun tanaman pangan. “Jika memang petani ingin mengganti karet dengan jenis tamanam lain, piha pemerintah juga tak mungkin bisa melarangnya,” kata Dondit.

Tentang komoditi pengganti, ia mengatakan, kelapa sawait mestinya dapat dijadikan alternatif para petani jika memang ingin mengganti karet. Namun di tengah harga tandan sawit yang juga mengalami tren penurunan, kepala lebih tepat untuk mengganti karet.

Hanya saja, lanjut Dondit, pangsa pasar kelapa lebih kecil dibanding karet yang memang merupakan komoditi ekspor. “Memang pangsa pasar kelapa lebih banyak lokal. Lebih luas hanya antar pulau. Tapi jika petani memang ingin beralih, kelapa dapat dijadikan alternatif pengganti karet,” katanya.***

Bagikan berita ini!
Advertisement
Komentar

Headline

Trending Selama Sepekan