Nasib Penggosok Batu Permata di Kota Martapura - Kanal Kalimantan
Connect with us

Kabupaten Banjar

Nasib Penggosok Batu Permata di Kota Martapura

Diterbitkan

pada

Sempat boming dan menjadi primadona pada tahun 2015 lalu, kini profesi sebagai penggosok batu permata sudah banyak yang ditinggalkan. Mereka terpaksa banting setir untuk mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, guna menghidupi keluarganya.

Sepinya order yang masuk dalam tiap harinya, menjadi penyebab berkurangnya para perajin di Kota Martapura. Setidaknya itu terlihat dan terpantau penulis di lokasi penggosokan batu permata, dilorong Martapura Plaza lantai dua.

Tahun 2015 lalu lokasi ini penuh para pengunjung yang berjubel, untuk memakai jasa para perajin guna menjadikan batu yang mereka bawa untuk dijadikan permata, terutama perhiasan berupa cincin. Saking berjubelnya pengunjung, sampai-sampai untuk lewat dilorong itu saja susahnya bukan main.

“Begitu banyak pengunjung susahnya minta ampun kalau naik kelantai dua ini mas, pengunjung yang datang tidak langsung pergi, akan tetapi mereka menunggu hasil kerja batu permata yang dikerjakan perajin” ujar salah seorang pengrajin, Anas.

Jika dibandingkan dengan sekarang nampak 180 persen berbeda. Lorong perajin tersebut nampak begitu sepi dari pengunjung. Meskipun ada itupun bisa dihitung dengan jari. Bahkan banyak dari lapak-lapak pengrajin yang kosong sudah tidak dipakai dan dioperasikan lagi oleh pemiliknya. Kendati demikian masih ada beberapa pengrajin, yang mencoba untuk bertahan ditengah lesunya order dimaksud.

Sebut saja Anas (40) lelaki yang sudah belasan tahun beraktivitas untuk layanan jasa batu permata ini mengaku tetap bertahan walaupun order lagi sepi. Selain tidak punya keahlian lain, sebagai kepala keluarga ia juga harus bertanggung jawab untuk bisa memberikan kebutuhan rumah tangga dan anak-anaknya.
Wayahini dipasar kawa guring mang ai, sunyi banar,” ungkap dengan logat Banjar yang kental.

Menurut pengakuannya, pengunjung yang datang dalam satu harinya terkadang ada tapi kadang juga tidak ada. Meskipun ada, itupun cuma satu atau dua orang saja. Sementara untuk upah jasa sudah jauh berbeda dari sebelumnya yang mencapai Rp. 25.000,- perbijinya. sekarang hanya Rp. 10.000,- dengan jumlah batu yang digosok 2 hingga 3 biji saja.

Jika tahun 2015 lalu begitu gampang untuk mendapatkan penghasilan 1 juta perhari, namun sekarang penghasilannya tidak bisa dipastikan. Penghasilan yang menurun tajam membuat Anas berpikir kuat untuk bisa mencari tambahan penghasilan. ” Babisa-bisa ai mencari peluang lain selain disini,” katanya.

Aktivitasnya di Martapura Plaza ini hanya sampai jam 4 sore. Sementara sisa waktunya dilakukan untuk mencari peluang lainnya, seperti menjual batu permata hasil karyanya kepada relasi dan kenalan yang ada. Hal tersebut harus dilakukan karena jika mengharapkan penghasilannya dipasar, sudah barang tentu tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. “Kadang sampai tangah malam hanyar bulik karumah,” ujarnya lirih.

Sementara pengrajin lainnya yang sudah lama mengosongkan lapaknya dilokasi tersebut, Udin mengaku tetap saja menggeluti profesinya tersebut. Hanya saja ia mengerjakan dirumahnya sendiri. “Sunyi jua dipasar, jadi baik dirumah aja kawa santai,” katanya.

Jika dirumah tentu saja order yang masuk adalah dari orang-orang tertentu yang sudah ia kenal atau sudah menjadi langganan. Jika itu tidak ada, ia tetap saja menggosok batu permata milik sendiri sesuai dengan motif yang di inginkan. Sementara untuk pemasaran hasil karyanya biasa dijual ke pasar, terutama di pertokoan permata Cahaya Bumi Selamat Martapura. “Ulun jual keliling kepasar ” ungkapnya.(ron)

Bagikan berita ini!
Advertisement
Komentar

Headline

Trending Selama Sepekan