Menjaga Tradisi Meski Hasil Panen Kian Tak Pasti - Kanal Kalimantan
Connect with us

Kabupaten Banjar

Menjaga Tradisi Meski Hasil Panen Kian Tak Pasti

Diterbitkan

pada

MARTAPURA – Menjadi tradisi temurun yang masih lestari hingga kini di saban musim panen tiba, selamatan padang yang dilaksanakan warga di Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat.  M. Aspi, salah seorang tokoh masyarakat Desa Sungai Batang belum lama mengatakan, selamatan padang digelar sebagai wujud syukur warga yang sebagian sebesar menggantungkan hidup di tengah pematang sawah.

Disampaikannya, sebelum pelaksanaan semalatan padang biasanya diawali dengan rapat desa. Dalam rapat desa, akan ditentukan takaran minimal padi yang wajib disumbangkan tiap kepala keluarga (KK). Yang rutin saban tahunnya, ujar Aspi, untuk KK di RT 3, wajib menumbang padi sedikitnya satu blek padi, atau setara dengan 14 kilogram. Menjadi wajib bagi KK di RT 3, lantaran selamat padang dilaksanakan di RT tersebut .

[box type=”success” align=”aligncenter” class=”” width=””]“Sedangkan untuk warga di RT 1 dan 2, patungan padi bersifat sukarela Istilah kami, sapambarian.” Katanya.[/box]

Patungan padi sapambarian juga berlaku untuk warga luar desa namun memiliki sawah di wilayah Desa Sungai Batang. Untuk mengumpulkan padi dari warga luar desa, pembakal sendiri biasanya yang menyambangi rumah warga.

Padi yang terkumpul, ujar Aspi, sebagian dijual. Hasil penjualan padi akan dibelikan berbagai bahan keperluan lainnya. Semisal bumbu dapur beserta lauk pauknya. Menyembelih beberapa kambing yang dibeli dari hasil menjual padi, lazim menjadi pilhan warga sebagai lauk dalam santap bersama di kegiatan selamatan padang yang rutin di gelar di tengah pematang sawah di RT 3 desa setempat.

Selain acara syukuran dalam wujud makan bersama di tengah pematang sawah yang menjadi acara inti, saat selamatan padang juga diisi dengan berbagai kegiatan bernuasa Islam. Diantaranya, pembacaan syair-syair Maulid Habsy dan tausiah yang disampaikan ulama atau pemuka agama setempat.

Selamatan padang, menurut Aspi memang menjadi tradisi yang masih dipertahankan warga Desa Sungai Batang hingga kini. Kendati diakuinya dalam beberapa tahun terakhir, hasil panen padi tak dapat dikatakan baik. Rendaman banjir, serangan pemangsa jenis tikus dan burung, menjadiyang paling banyak dikeluhkan warga.

“Karena sudah menjadi tradisi temurun, bagus atau tidak hasil panennya, selamatan padang tetap dilaksanakan. Pembedanya hanya, banyak atau seikitnya padi yang dikumpulkan per KK sesuai hasil panen. Jika panen bagus, patungan padi per KK juga banyak, begitu juga sebaliknya,” katanya. (Rudiyanto)

Bagikan berita ini!
Advertisement
Komentar

Headline

Trending Selama Sepekan