Menelusuri Keberadaan Kuda Sungkai di Kecamatan Sambung Makmur - Kanal Kalimantan
Connect with us

Historia

Menelusuri Keberadaan Kuda Sungkai di Kecamatan Sambung Makmur

“Saya juga tidak tahu sejak kapan kuda-kuda itu ada di sini . Yang pasti waktu saya masih kecil kuda-kuda itu sudah ada,” kata Saadilah yang saat ini sudah berusia 64 tahun

Bagikan berita ini!

Diterbitkan

pada

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Dulu, keberadaan kuda sungkai masih banyak digunakan sebagai sarana tranportasi oleh warga di Kecamatan Simpang Empat, Pengaron dan Kecamatan Sambung Makmur untuk menjual hasil panen. Kini keberadaan kuda sudah sangat jarang ditemui. Bagaimanakah nasibnya kini?

Kuda putih yang masih terikat tali kekang tak jauh dari Pasar Batu Tanam, Kecamatan Sambung Makmur, Kabupaten Banjar tiba-tiba meringkik. Dari arah pasar, seorang pria bertubuh kecil dengan topi di kepala datang menghampiri.

Saadilah, si empunya lantas meletakkan dua karung ukuran kecil yang tampak tak terisi penuh dengan barang-barang keperluan pokok, beberapa meter dari tempat kunda tertambat dengan tali kekang. Satu karung berisi sekitar 10 kilogram beras, karung satunya berisi bahan makanan lain seperti minyak goreng, gula, dan kelapa.

Tali kekang kuda lantas ia lepas dan membawanya mendekat ke kedua karung yang semula diletakkan. Dua karung berisi beras dan bahan makan lain segera diletakkanya di atas punggung kuda berlapis pelana kayu. Beres meletakkan karung, Saadilah juga naik ke atas punggung kuda. Dengan langkah perlahan, di bawah komadonya, kuda menuyusuri jalanan yang belum semuanya beraspal menuju rumahnya di Desa Batung.

Sembari kuda berjalan pelan Saadilah mengatakan, sudah memanfaat tenaga kuda betina miliknya untuk mengangkut beberapa tandun pisang hasil kebunnya ke pasar-pasar tradisional menjelang hari pasaran tiba sejak puluhan tahun silam.

Salah satunya pasar yang rutin ia sambangi adalah Pasar Batu Tanam yang berjarak sekitar 10 kilometer dari tempat tinggalnya. “Senin dan Kamis di Pasar Batu Tanam, Selasa ke Pasar Baliangin. Kalau pisang sedang banyak kadang sampai ke Pasar Sungkai yang ramai pada Minggu dan Rabu,” kata Saadilah Senin kemarin.

Dikisahkannya, jauh sebelum Pasar Batu Tanam atau Pasar Baliangin ada, aktifitas perniagaan warga Kecamatan Sambung Makmur terpusat di Pasar Sungkai. Pisang adalah produk pertanian yang mendominasi kala itu. Warga mengangkut hingga belasan tandan pisang di atas punggung kuda. Mendaki, menuruni, dan menyuri jalan membawa pisang sampai ke Pasar Sungkai.

Banyaknya pisang yang dibawa, kata Saadilah, membuat kuda tak dapat ditunggangi. Pemilik kuda pun berjalan berpuluh-puluh kilometer mengiringi derap kaki kuda sambil tetap memegang tali kendali.

“Dari Desa Batung tempat saya tinggal ke pasar Sungkai berjarak sekitar 15 kilometer. Jadi harus berangkat Subuh untuk sampai di pasar mejelang pagi hari,” kata Saadilah.

Saking banyaknya warga yang menggunakan kuda sebagai sarana angkutan ke Pasar Sungkai kala itu, membuat suasana pasar tak hanya riuh oleh suara orang-orang yang melakukan tawar menawar, tapi juga oleh ringkikan kuda. Jumlahnya mencapai ratusan, sehingga diperlukan area khusus memarkir kuda-kuda.
“Ongkos parkirnya Rp250 per kuda. Itu sekitar tahun 1960-an,” kata Saadilah.

Kuda, lanjutnya, berperan penting sebagai sarana angkutan barang kala itu. Jumlahnya bahkan mencapai ribuan ekor dan selalu memenuhi Pasar Sungkai menjelang hari pasaran, Minggu dan Rabu. Itu membuat Desa Sungkai, Kecamatan Sambung Makmur kemudian terkenal dengan kuda Sungkainya.

Tak diketahui secara pasti sejak kapan kuda-kuda itu ada. Tapi kuda-kuda itu bukanlah satwa endemik wilayah setempat. Menurut Saadilah, kuda-kuda yang banyak tersebar hampir di seluruh desa di Kecamatan Sambung Makmur sebagian juga tersebar di Kecamatan Binuang itu didatangkan dari Madura, dan sebagian ada juga yang didatangkan dari Bali dan Sumbawa.

“Saya juga tidak tahu sejak kapan kuda-kuda itu ada di sini . Yang pasti waktu saya masih kecil kuda-kuda itu sudah ada,” kata Saadilah yang saat ini sudah berusia 64 tahun dengan logat khas Madura.

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Bagikan berita ini!
Advertisement
Komentar

Headline

Trending Selama Sepekan