Melihat Model Full Day School di SMAN 3 Banjarbaru - Kanal Kalimantan
Connect with us

Pendidikan

Melihat Model Full Day School di SMAN 3 Banjarbaru

Diterbitkan

pada

Presiden Jokowi beberapa waktu lalu telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Pendidikan Karakter sebagai respons kuatnya penolakan atas Permendikbud tentang kebijakan Full Day School (FDS). Dengan Perpres tersebut maka kebijakan FDS dikembalikan kepada sekolah masing-masing.

Lalu bagaimana model pelaksanaan FDS yang telah diuji-coba di sejumlah sekolah di Kalsel itu? kanalkalimantan.com mencoba melihat penerapannya di SMAN 3 Banjarbaru.

Program FDS di sekolah ini dilaksanakan sejak awal tahun ajaran 2017/2018 sebagai tindaklanjut hasil rapat MKKS Kepala SMA/SMK/MA se -Banjarbaru tanggal 19 Juli 2017 lalu.

Wakasek Humas SMAN 3 Banjarbaru, Trihayat Ariwibowo, M.Pd mengatakan, untuk proses menuju full day school itu pihaknya telah melakukan koordinasi dengan sekolah lain. ”Kami mengadakan rapat dengan seluruh kepala sekolah dan dinas pendidikan provinsi. Karena untuk tahun ini kewenangan pengelolaan SMA berada di bawah provinsi,” ujar Trihayat.

Sebenarnya, tak ada hal khusus yang disiapkan terkait pelaksanaan FDS di sekolahnya. Hanya penambahan jam belajar yang semula selesai pukul 14.00 Wita, menjadi pukul 16.00 Wita.

Namun yang jelas, pengajar juga harus mempersiapkan mental dan psikis dengan segala kondisi yang ada. Sejak desas-desus akan dilaksanakannya FDS, Trihayat dan staf pengajar lainnya sudah mengantisipasinya dengan cara mengikuti pertemuan-pertemuan yang membahas mengenai ini. Baik pertemuan ditingkat kota maupun ditingkat provinsi.

Di awal proses pelaksanaan, diakui banyak siswa yang merasa terbiasa dengan perubahan jam sekolah. Namun secara perlahan, mereka mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

”Salah satu penyesuaian diri mereka adalah saat jam makan. Karena kantin disini terbatas, jadi mereka membawa bekal makanan sendiri dari rumah. Jam istirahat juga mereka manfaatkan sebaik mungkin. Pada jam istirahat pertama yang cuma 15 menit, untuk istirahat keduanya kami tambah menjadi 30 menit  disambung Isoma,” jelas pria yang hobi bola ini.

Untuk materi pembelajaran dan jam tambahan selama full day school, juga tak terlalu banyak perubahan signifikan. Sisi positif FDS ini menurut Trihayat, siswa jadi lebih giat belajarnya. “Tidak ada lagi istilah pekerjaan rumah yang memberatkan, kalau ada tugas, tugas itu langsung dikerjakan di sekolah,” jelasnya.

Namun diakui, saat masih belajar di pagi hari, minat dan semangat mereka masih tinggi. Tapi ketika sudah memasuki jam siang, mereka mulai kelelahan atau jenuh.  Nah, untuk mengatasi kejenuhan dan rasa lelah siswa disaat belajar jam siang, dirinya mengaku bahwa para guru sudah memiliki cara tersendiri agar para siswa tetap antusias mengikuti pelajaran.

SMAN 3 Banjarbaru tidak memaksakan para siswanya setelah pulang sekolah untuk mengikuti ekskul. Namun tetap diadakan dengan mengurangi jam pertemuan.

Ekskul selama full day school juga sudah dievaluasi. Kini hanya difokuskan kepada pengembangan bakat dan minat anak. Baik itu di bidang seni dan olahraga maupun di bidang akademisinya. Sehingga para siswa diminta untuk lebih selektif dalam memilih 1 ekskul pilihan yang perlu mereka dalami dan jalani.

FDS ditujukan untuk merangsang waktu belajar anak-anak agar terhindar dari kegiatan-kegiatan yang tidak perlu di luar jam sekolah. “Konsep dasarnya saya setuju. Misalnya setelah pulang sekolah ‘nongkrong-nongrong’ dulu, yang sangat ditakutkan adalah mereka terlibat tawuran. Namun FDS juga perlu pembenahan dari sisi jam wajib belajar bagi para guru. Kita ingin apabila tetap dilaksanakan, guru juga memerlukan waktu untuk beristirahat,” kata Trihayat.***

Bagikan berita ini!
Advertisement
Komentar

Headline

Trending Selama Sepekan