Masjid Su’ada Sarat Sejarah - Kanal Kalimantan
Connect with us

Historia

Masjid Su’ada Sarat Sejarah

Arsitektur Masjid Su’ada secara umum memperlihatkan penerapan konsep rancang bangun rumah tradisional Kalimantan Selatan, yaitu beratap tingkat tiga yang berakhir dengan momolo/pataka dan didirikan di atas tiang (rumah panggung)

Bagikan berita ini!

Diterbitkan

pada

Marwan Anshari
Penulis

Masjid Su’ada Wasah Hilir Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan, mulai dibangun pada tanggal 28 Dzulhijah 1328 H atau tahun 1908 M. Pelopor pembangunan masjid tersebut adalah dua orang juru dakwah yaitu Al Allamah Syeikh H. Abbas bin Al Allamah Syeikh H. Abdul Jalil, dilahirkan di dalam Pagar Martapura Kabupaten Banjar dan Al Allamah Syeikh H.M. Said bin Al Allamah Syeikh H. Sa’duddin lahir di kampung Amawang Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, keduanya buyut dan intah dari Al Allamah Syeikh H. Abbas.

Tidak lama sepulangnya dari belajar di Makkatul Mukarramah beliau pergi mengembara dari kampung halaman beliau di Martapura pergi menuju daerah Hulu Sungai. Pengembaraan beliau ini menurut cerita mengiringi kepergian Pangeran Antasari bersama pengikut-pengikutnya meninggalkan daerah Banjar.

Al Allamah Syeikh H. Abbas setelah merasa uzur dan lanjut usia melihat masjid sementara yang beliau dirikan sudah tidak mampu lagi menampung banyak orang yang datang untuk beribadah, maka beliau berkeinginan untuk mendirikan sebuah masjid yang indah, besar dan kuat. Masjid sementara yang beliau dirikan dibongkar dan dimulailah pengerjaaan pembangunan masjid baru.

Bangunan Masjid Su’ada Wasah Hilir didirikan di atas sebuah tanah wakaf seluas 1047,25 M², terletak di Jl. Musyawarah atau disamping Jl. Keramat Kampung Wasah Hilir. Tanah wakaf tersebut adalah wakaf dari dua orang penduduk Kampung Wasah Hilir yang bernama Mirun bin Udin dan Asmail bin Abdullah.

Nama Masjid Su’ada diambil dari kata Sa’id nama seorang pelopor pembangunan masjid ini yang dalam bahasa Arab berarti beruntung, dimaksudkan nama tersebut untuk menarik perhatian orang-orang atau masyarakat agar lebih bergairah berkorban memelihara dan beribadat dimasjid ini.

Masjid ini didirikan oleh Syeikh H. Abbas dan Syeikh H. M. Sa’id bin H. Mayasin. Arsitektur Masjid Su’ada secara umum memperlihatkan penerapan konsep rancang bangun rumah tradisional Kalimantan Selatan, yaitu beratap tingkat tiga yang berakhir dengan momolo/pataka dan didirikan di atas tiang (rumah panggung). Sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu ulin, memiliki dimensi pada ruangan utama masjid yaitu 15,5 M x 15,5 M dan tinggi 12 M dengan tinggi panggung 1 meter dari tanah.

Di dalam bangunan utama terdapat sebuah bangunan pengimaman (mihrab) yang beratap kuncup bawang dan memiliki ambang pintu yang berbentuk lengkung. Pada mihrab ini terdapat dua panil tegak (disisi lengkung) dan panil datar (di atas ambang pintu) yang penuh dengan pahatan bermotif floralistik dan terutama sulur-sulur daun. Tidak jauh dari mihrab terdapat sebuah mimbar tempat berkhotbah.

Mimbar tersebut dipenuhi dengan hiasan ukiran berupa sulur-suluran, kelopak bunga dan arabes yang distilir. Pada bagian tengah hiasan suluran dan kelopak bunga itu terdapat ukiran kaligrafi Arab bergaya Naskhi dan angka tahun 1337 H/1917 M.

Sedangkan, pada salah satu panil samping didekat tempat duduk pada mimbar, terdapat ukiran kaligrafi yang berbunyi : “Allah Muhammad Rasulullah”. Secara keseluruhan area masjid berukuran 68,5 M x 58,5 M dengan bentuk tidak persegi.

Bagikan berita ini!
Advertisement
Komentar

Headline

Trending Selama Sepekan