Kantong Pengusaha Ikan Kering Ikutan “Kering” - Kanal Kalimantan
Connect with us

Ekonomi

Kantong Pengusaha Ikan Kering Ikutan “Kering”

Diterbitkan

pada

BERUNTUNG BARU – Hari-hari Samsiar terakhir ini tak secerah sebelumnya. Kenaikan harga garam yang cukup tinggi, membuat pengusaha pengolahan ikan kering ini dirundung susah. Betapa tidak, omset dan biaya produksi pun seperti terjun bebas dalam beberapa pekan ini.

Sampai-sampai, ia pun harus rela memberhentikan tiga karyawannya karena sudah tak cukup lagi kemampuan memberikan gaji. Kondisi ini pun, sebenarnya dialami hampir seluruh pengusaha ikan kering yang berpusat di Desa Selat Makmur, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar.

Samsiar, kepada kanalkalimantan.com menceritakan betapa harus pontang-panting menyediakan uang demi membeli garam agar usahnya terus berjalan. Sebab bisnis itu telah 22 tahun ia geluti untuk menghidupi keluarga.

Jadi jangan heran, demi dapat bertahan Samsiar harus tega memangkas pegawai yang membantunya saat proses fermentasi ikan kering.

Paksa ae kami ampihi, hujungannya gasan maupah karyawan haja lah, kami pang kiapa? (terpaksa kami berhentikan, soalnya keuntungannya sekarang hanya mampu membayar karyawan, untuk kami bagaimana?, red),” kisahnya.

Malahan selama kurang lebih dua minggu ini, dia bersama istri sempat tidak mengolah ikan. Disamping garam yang biasa dibeli sudah tidak lagi diantar ke rumah, cuaca pun cenderung hujan. “Selama dua minggu kemarin kami hanya berdiam di rumah dan menjual telur bebek yang jumlahnya hanya 27 sampai 30 butir saja perhari. Baru dua hari ini kami kembali bisa mengolah ikan kering,” ujarnya.

Menurut Samsiar, saat ini harga garam berkisar antara Rp 280-300 ribu per pikul (sekitar 60,479 kg). Padahal awalnya harga per pikul hanya mencapai Rp 100 ribu saja.

Lantaran langka, dia bersama istrinya pun kadang terpaksa mengolah ikan kering menggunakan garam untuk masak yang dijual di warung. “Saat ini terpaksa pakai garam yang dijual diwarung yang dijual bungkusan kecil, tapi harga jual ikannya kami naikan agar keuntungannya tetap ada,” lirih pria berusia 44  tahun ini.

Harga beli garam untuk masak itu dibeli Rp 4 ribu per 200 gram. Sedangkan ikan sebanyak 10 kg dalam keadaan basah memerlukan 1,5 kg garam untuk diolah menggunakan sistem fermentasi. Otomatis modal untuk bisa membuat ikan kering sebanyak 10 kg mengeluarkan uang senilai Rp  28 ribu. Kemudian, harga jual ikan kering yang sudah jadi seharga Rp 30 ribu perkilo. “Dulu waktu harga garam belum naik dan langka, kami cuma menjual ikan kering Rp 15 ribu perkilo,” kata Samsiar

Lebih jauh,  Samsiar menuturkan selama 22 tahun lebih, hasil dari usahanya ini sebelumnya membuahkan hasil yang luar biasa. Tidak heran jika dia mampu membeli rumah, tanah bahkan menyekolahkan anak-anaknya sampai lulus kuliah di Stikes Banjarbaru. “Saya masih punya 2 tanggungan lagi, satunya masih duduk di bangku SMP Beruntung Baru Kelas 2, dan satunya lagi duduk di SMA Beruntung Baru 2, kelas 1,” keluhnya.

Samsiar berharap, pemerintah provinsi bisa kembali menormalisasikan garam di Kalimantan Selatan agar pengusaha kecil seperti dirinya bisa secepatnya melakukan aktivitas rutin tanpa ada hambatan. “Kami mau cepat-cepat dibenahi masalah garam ini,” pungkasnya.***

Bagikan berita ini!
Advertisement
Komentar

Headline

Trending Selama Sepekan