Hingga Pertengan Tahun 2017 PTPN 13 Minus Rp 5 miliar - Kanal Kalimantan
Connect with us

Ekonomi

Hingga Pertengan Tahun 2017 PTPN 13 Minus Rp 5 miliar

Diterbitkan

pada

ASTAMBUL – Dampak keterpurukan harga karet ternyata tak hanya dirasakan para petani karet. Anjloknya harga karet, bahkan telah membuat roda perusahaan sektor pekerbunan tersendat. Di PTPN 13 Kebun Danau Salak misalnya, merosotnya harga jual ekspor karet berdampak pada tak lancarnya pembayaran gaji para pekerja, juga dana pensiun para karyawanan yang telah purna kerja.

Tersendatnya pembayaran upah pekerja dampak tak kunjung membaiknya harga diakui M Thamrin, Humas pada PTPN 13 saat ditemui Kalimantan View beberapa waktu lalu.

Sebagai salah satu komoditi, ujarnya, fluktiasi harga karet bergantung pada nilai tukar mata uang. Kian terpuruk nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika, maka akan terpuruk juga nilai ekspor barang. Tak terkecuali karet.

Harga per kilogram rubber sheet, atau karet kering saat ini hanya di kisaran Rp18.000. Sementara beban operasional perusahaan cenderung meningkat. Alhasil, PTPN sebagai perusahaan milik negara, terpaksa menadah tangan berharap subsidi dari pemerintah agar roda perusahaan tak terhenti permanen.

Subsidi tersebut, lanjutnya, digunakan untuk menutupi kerugian akibat pembengkakan biaya operasional saban bulannya. “Hingga pertengahan tahun ini saja kerugian mencapai Rp5 Miliar,” ujar Thamrin.

Eksistensi mempertahankan karet sebagai komoditi utama perkebunan mulai goyah di tengah kerugian yang terus diaalami perusahaan.

“Hingga pertengahan 2017 ini saja, perusahaan minus Rp 5 Miliar,” ucap M Thamrin

Cash flow perusahaan yang tak sehat itu, diakui Thamrin memaksa managemn berpikir ulang mempertahan karet. Sejumlah opsi pun lantas diambil. Satu diantaranya adalah mengganti komoditi dari karet menjadi sawit.

“3 dari 13 afdeling kebun PTPN akan diganti sawit. Saat ini dalam tahap proses pembibitan dan akan siap ditanam dalam tahun dekat,” kata Thamrin.

Dondit Bekti, KepalaDinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kabupaten Banjar,sebagai komoditi ekspor, harga karet memang bergantung pada kekuatan nilai tukar rupiah.

“Kualitas karet beku, atau bokar yang dihasilkan petani cukup baik, hanya memang kondisi perekonomian global saat ini sedang tidak baik,” kata Dondit. (rud)

Bagikan berita ini!
Advertisement
Komentar

Headline

Trending Selama Sepekan